Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta sebegini mudahnya, padamu yang pura-pura acuh sebegitu menyebalkannya. Setiap hari kita berputar-putar dalam kalimat penuh kasih terselubung. Tapi hanya berhenti sampai lingkaran kalimat itu saja kita berani saling berkomunikasi. Aku sendiri, kaupun tentu bukan duda beranak, ataupun bekas perjaka atau sedang menjalin
relation-shit dengan siapapun. Namun perbincangan kita berdua selalu bagaikan anak pramuka penuh dengan kode, simbol dan sayang sekali aku tak pernah menjadi bagian dari mereka saat masih anak-anak.
"Single lady.."
"Hola perjaka.."
"Besok ke kantor sama siapa?"
"Sendiri lah, kenapa?" Yes, he want to pick me up!
"Oh yaudah..baek-baek single lady"
Sudah..itu saja.
Di waktu bagian malam dan hujan berubah menjadi magnet antara dua sejoli, handphoneku kembali menunjukkan sinyal adanya dirimu
"Laporan udah kelar?"
"Belum lah, suasanya sedang mendukung buat males-malesan."
"Pemalas.."
"Hih, kamu udah?"
"Jelas belum. haha"
"Hari ini bos besar minta email secepatnya, tapi jaringan internet dirumah lagi soak"
"Disana hujan?"
"No,,why?"
"Disini hujan, tapi jaringan internetku lancar." Please come to me, i wishpered.
"Haha,,kalau gitu waktunya tidur single lady, hujan lebih nyaman untuk tidur. Nite."
Sudah itu saja.
Di ruangan yang hanya ada kamu dan aku ternyata tak membuat semua berjalan lancar. Kita sudah berada di dalam ruangan penuh berkas ini selama tiga tahun.
"Lembur lagi?" Kamu masih menatap laptop tanpa menatapku.
"Sepertinya,,malam yang panjang. kamu gak pulang?"
"Masih ada kerjaan tambahan."
"Kerjaan?Bukannya..."
"Cepet kerjain aja."
Tiga jam berlalu aku sudah menyelesaikan laporan kantor. Kamu masih terpaku sibuk dengan layar di depanmu dengan satu jam tanpa percakapan.
"I'm done. Kamu mau nemenin pulang gak?"
"Kamu gak bawa motor?"
"Nggak, tadi kakiku agak sakit jadi naik taxi." Motor akan aku tinggalkan begitu saja demi momen ini.
"Hh..oke."
Malam itu aku duduk tidak lebih dari 5 cm dibelakangmu. Astaga sudah malam tapi wangimu masih saja menyegarkan. Kamu samasekali tidak mengajakku berbicara tapi justru disana aku tahu betapa gugupnya kita malam itu. Perjalanan pulang harusnya tigapuluh menit tapi kenapa justru terasa cepat dan aku sudah berdiri di halam rumahku.
"Well,,thanks."
"Ya sama-sama."
"Mau minum dulu? I've hot chocolate."
"..........."
"Kalau gak mau gak papa sih,,hati-hati dijalan."
"Aku haus..dan lapar."
Sedikit demi sedikit kode terbuka, dua pasang makhluk penuh kode abstrak sedang menguraikan kode yang sebenarnya tidak rumit. Tidak, tidak terjadi apa-apa malam itu hanya perbincangan santai tapi jauh lebih hangat dan tertawa.
"Hei single lady jangan terlalu gegabah jadi wanita"
"Ha?"
"Motor, lain kali sebelum ditinggal dititipin dulu sama satpam kantor." Dan aku ingin membenamkan wajah dalam-dalam.
Seperti biasa aku menyampah disemua media sosial tell the world that im so happy!
"
Who knows kalau coklat membawa berkah" shared by twitter.
"
Aku masih haus, bisa buatkan coklat?" Oh My God! kode pertama berhasil terpecahkan! A chocolate!
Kantor adalah tempat yang selalu kurindukan selain rumah. Ruangan ini tentu yang terfavorit, karena kamu di dalamnya.
"
Ruangan sepi nih, ramein dong" Twitter please help me.
"
Duh, masak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, masang dasi bisa kali dipasangin :( " Status twittermu membuatku menatap pintu ruangan dan menghitung hingga hitungan kesepuluh apakah kamu memakai dasi atau..
"Hei single lady!" Kamu datang, dengan dasi belum terpasang!
"Mm..itu dasinya.." Aku gugup bodoh! Kode macam apa lagi ini.
"Oh,,biasa keburu-buru sis,, would you?" Kamu mendekatkan diri dan jarak kita tak sampai 30cm.
"Hh gimana mau promosi, masang dasi aja gak becus." Kupasangkan dasi dengan wajah yang sungguh panas, jantung bagaikan tabuhan seribu drum.
"Easy, pasangkan saja setiap hari sebelum aku berangkat ke kantor."
Aku tak menjawab dan tak menatapmu, kode diterima dan kode terlalu susah untuk dihadapi. Aku berlalu untuk mengambil air putih di meja berharap satu galon air dapat mendinginkan wajahku.
"Single lady,,"
"Ya?"
"Mau sampai kapan kita speak about codes?"
"Excuse me??"
"Codes.."
Kamu mendekat dan semakin dekat dan untuk pertama kalinya menatap dengan sungguh-sungguh.
"Ataya Raharjo,, My single lady..sudah waktunya kita mengakhiri kode-kode ini. Seharusnya sedari dua tahun lalu."
"Kamu.."
"Well, ini jam kerja sih. Jam lima sore sepulang kantor kita harus mengakhiri kode. Seterusnya tidak usah bersusah payah menaiki motor sendiri."
"A..apa?"
"Haha. Oh ya,, mulai besok kamu harus terbiasa bekerja disini sendiri."
"Hah?Apa?" Aku masih disengat puluhan tawon.
"Aku berhasil dipromosikan, besok ruanganku tidak disini. Baik-baik dan jaga sikapmu single lady, dan bersiaplah menjadi Ny. Reno Gemilang." Kau menatapku sekali lagi.
"E..wow..selamat tapi.."
"Terimakasih, dan sama-sama. Love you darl..since three years ago, still will be and forever"
Kode berakhir.