Viewer

Kamis, 19 November 2015

It was

The universe's trying to tell me about things that i dont know..
You have broken everything the things that you dont know..
And I've broken everything when i knew..
Let me find a way to threw it away

Everybody knew and you've been hiding 
Everbody told ya..everybody..
You aren't my flashlight anymore 
You aren't my sunshine ..
It's belonging to someone who never do like i can
I made a mistake for loving someone who even never watch me standing here
You can take it all and i swear to take it back.
It doesnt matter and nothing to worry about
Cause its really hurt, 
I'll follow a line which not lead to you
No more it was always you

Kamis, 12 November 2015

Papa

Dear papa,
Hari ayah nasional akhirnya ada juga ya..
Untuk menghargai cinta kasihmu yang sepertinya selalu nomer dua setelah ibu, mama, bunda, emak, mamak, bundo, nyak.
Padahal nyatanya untukmu papa, sangat terang2an sekali curahan kasih sayang buatku juga buat edo. Padahal nyatanya untukmu papa, sangat berlebihan perhatianmu untuk putri dan putra kecilmu ini. Padahal nyatanya untukmu papa, juga sangat tak enggan menggendongku di usiaku yang sudah lebih dari 20 tahun. Aku selalu rindu pulang kerumah dan tertidur pulas tiba2 tangan lembutmu memijit kakiku dan membangunkanku sambil berbisik" Cin, masih ngantuk? mama masak enak ayok papa gendok ke dapur." Dan aku bergelayut di pundakmu lalu edo mulai tertawa kenapa aku masih semanja itu. Papa yang selalu menanyakan dengan siapa aku pergi, pulang jam berapa, naik apa, makan harus dijaga dan jangan lupa sholat tapi anakmu ini masih saja suka melupakan. 
 Papa, Dua anakmu ini akan terus berusaha menjadi yang terbaik bagimu dan bagi semua :) 

Selasa, 03 November 2015

Dibalik Bingkai Kacamata

Damn! kau datang tanpa pernah terduga.
Sudah satuh tahun berlalu hampir saja aku lupa. Apa sebenarnya maumu dan apa sebenarnya mauku. Perutku bagaikan diserbu ribuan kupu-kupu, mual namun menyenangkan. Kau datang dengan sapaan hangat dan aku luluh namun tak berani mengakui. Kau datang dengan tatapan tajam dibalik bingkai kacamata sekalipun, hangat dapat kurasa. Tak satupun dari kita berani mencoba mengenal lebih jauh, tapi sekarang kau muncul mengajakku bermain perasaan. Dengan begini saja aku telah bahagia. Dua anak manusia yang sedang bermain-main dengan hati, dan entah kemana akan berujung. 
Dekatlah dan jangan pergi lagi, jangan berhenti menanyakan kabarku, jangan pura-pura acuh lagi sungguh ingin kubisikkan ternyata aku masih terpesona olehmu.

Senin, 02 November 2015

Usia Cinta

Jika cinta mampu memilih..akankah ku menghindar darimu
Jika cinta tak berbatas usia..akankah ku menjauh darimu
Aku yang terpilih memasuki harimu
Kamu yang terpilih mengisi pikiranku

Jika cinta mampu berlari..akankah ku bersembunyi darimu
Jika cinta  mampu menunggu..mampukah usiaku bertahan untukmu..
Aku yang memilih padamu kujatuh hati
Kamu yang memilih usia tak berarti....

Kau ajarkanku cinta tanpa jika..
Kau berikanku tatapan tanpa kata..
Tak ada janji 
Tak ada luka yang kau beri..

Jika cinta nyata adanya..akankah kau kembali
Jika cinta benar wujudnya mungkinkah kita kan bersama..

Kau ajarkanku cinta tanpa jika..
Kau berikanku tatapan tanpa kata..
Tak ada janji 
Tak ada luka yang kau beri..





Sabtu, 31 Oktober 2015

Memang rencana Tuhan, bukan?

Memang Tuhan lah yang punya rencana dan akulah yang selalu berjuang melawannya. Bukan aku saja yang telah merencanakan hal terindah tapi ada tangan lain yang tak kuasa rupanya kutolak. Semua tatapku masih tertuju pada senyummu dan semua gerakku masih melangkah kearahmu yang ternyata bergerak menjauh. 
Memang Tuhan yang ingin aku merasakan dan menemukan dengan cara yang sedikit sakit. Ya, hanya sedikit sakit jika dibanding harus terus menjalani sisa hidupku denganmu, tentu akan sedikit sakit akan berubah menjadi teramat sakit. 
Semua kukira aku telah mendapatkan segalanya hanya dengan mendapatkanmu saja, aku tak perlu lagi mengejar mimpiku, tak perlu lagi berusaha menjadi wanita sempurna karena bagimu aku bidadari. Semula kukira akan kukenakan apa yang telah kau janjikan sayang, ternyata memang Tuhan lah yang memutuskan dengan siapa aku harus memakainya. 

"If I got locked away and we lost it all day, tell me honestly would you still love me the same?If I showed you my flaws if i could not be strong,tell me honestly would you still love me the same?Would you be there to always hold me down?"


Lirik yang mengalir dari bibir seorang Adam Levine nyatanya juga mengalir dari bibirku. Berkali-kali kuputar lagu menjengkalkan itu dan berkali-kali pula lantaiku penuh dengan gumpalan tisu. Aku tidak pernah menyesali pernah jatuh cinta bahkan setiap hari denganmu, sama sekali tidak. Kau datang dengan cara yang indah dan aku menikmati semua kisah kita. Sekali saja saat malam itu, aku bertanya apakah Tuhan benar-benar mengirimmu untukku atau untuk wanita lain yang lebih tegar dariku. Ternyata pertanyaanku tak hanya datang malam itu, benar sekali saat malam itu dan berkali-kali pada setiap waktu di setiap hariku. Benarkah aku mampu menemani kehebatanmu, benarkah aku yang dipilih Tuhan dan benarkah kamu yang berdoa disetiap malam untukku. 

Beruntungnya kita adalah pasangan dengan wajah seribu topeng molek. Karakter topeng yang kita pilih sama dengan senyum cukup manis dan mata berbinar. Tunggu....tidak, kamu tidak pernah menggunakan topeng, akulah yang selalu harus menggunakannya. Apapun yang kamu lakukan pada wanita yang kau anggap bidadari ini selalu membuatmu bahagia, pun hatimu tak pernah kulihat penyesalan. Sementara aku tak pernah bisa melepas topeng bahagia yang sudah terlanjur melekat, dan jika kulepas harus kutunjukkan wajah asliku yang tak lagi bak bidadari. 

Tapi memang Tuhan yang mengatur dan memasangkan hatiku denganmu saat itu. Untuk menguji dan menguatkan aku dan kamu. Sekarang Tuhan pula yang memintaku melepaskan ribuan topeng bahagia itu dan ternyata aku masih merasa seperti bidadari. Kita mampu melepaskan apa yang telah kita ikat, kurasa memang cincin ini tak akan mempermanis jariku maupun jarimu apalagi hidup kita. Terimakasih telah membuka kemudian melepas tapi juga mempermudah kisah cinta ini, kukembalikan padaMu segala keindahan yang dulu hanya bertamu. Akan kutunggu seorang yang akan tinggal dan aku tak perlu lagi membeli topeng apapun itu. Kisah kita akan jauh lebih bersinar daripada cincin putih yang kini berakhir di tempat pengap yang kau sebut sampah.


Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang Jodoh

Berlomba dengan matahari
Berlari tak hiraukan peluh
Sepasang mata melirik tajam pada kita

Kita mungkin bisa bersama
Kita mungkin bisa bahagia
atau justru jatuh menyerah
tergulung ombak kemudian mati

Berlomba dengan waktu
Usia yang disebut menua
Sepasang mata menyelidiki kita

Kita mungkin bisa bergandengan
Kita mungkin bisa tertawa
atau terpisah pasrah
terhempas badai kemudian lumpuh

Tentang kau dan aku sepasang manusia
Hanya kau dan aku yang merasa
Namun semua mata ikut andil pada kita
Menyerah atau bersama
Bersama atau Menyatu.......


Sabtu, 14 Maret 2015

We Speak Codes

Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta sebegini mudahnya, padamu yang pura-pura acuh sebegitu menyebalkannya. Setiap hari kita berputar-putar dalam kalimat penuh kasih terselubung. Tapi hanya berhenti sampai lingkaran kalimat itu saja kita berani saling berkomunikasi. Aku sendiri, kaupun tentu bukan duda beranak, ataupun bekas perjaka atau sedang menjalin relation-shit dengan siapapun. Namun perbincangan kita berdua selalu bagaikan anak pramuka penuh dengan kode, simbol dan sayang sekali aku tak pernah menjadi bagian dari mereka saat masih anak-anak.

"Single lady.."
"Hola perjaka.."
"Besok ke kantor sama siapa?"
"Sendiri lah, kenapa?" Yes, he want to pick me up!
"Oh yaudah..baek-baek single lady"

Sudah..itu saja.

Di waktu bagian malam dan hujan berubah menjadi magnet antara dua sejoli, handphoneku kembali menunjukkan sinyal adanya dirimu

"Laporan udah kelar?"
"Belum lah, suasanya sedang mendukung buat males-malesan."
"Pemalas.."
"Hih, kamu udah?"
"Jelas belum. haha"
"Hari ini bos besar minta email secepatnya, tapi jaringan internet dirumah lagi soak"
"Disana hujan?"
"No,,why?"
"Disini hujan, tapi jaringan internetku lancar." Please come to me, i wishpered.
"Haha,,kalau gitu waktunya tidur single lady, hujan lebih nyaman untuk tidur. Nite."

Sudah itu saja.

Di ruangan yang hanya ada kamu dan aku ternyata tak membuat semua berjalan lancar. Kita sudah berada di dalam ruangan penuh berkas ini selama tiga tahun.

"Lembur lagi?" Kamu masih menatap laptop tanpa menatapku.
"Sepertinya,,malam yang panjang. kamu gak pulang?"
"Masih ada kerjaan tambahan."
"Kerjaan?Bukannya..."
"Cepet kerjain aja."
Tiga jam berlalu aku sudah menyelesaikan laporan kantor. Kamu masih terpaku sibuk dengan layar di depanmu dengan satu jam tanpa percakapan.
"I'm done. Kamu mau nemenin pulang gak?"
"Kamu gak bawa motor?"
"Nggak, tadi kakiku agak sakit jadi naik taxi." Motor akan aku tinggalkan begitu saja demi momen ini.
"Hh..oke."

Malam itu aku duduk tidak lebih dari 5 cm dibelakangmu. Astaga sudah malam tapi wangimu masih saja menyegarkan. Kamu samasekali tidak mengajakku berbicara tapi justru disana aku tahu betapa gugupnya kita malam itu. Perjalanan pulang harusnya tigapuluh menit tapi kenapa justru terasa cepat dan aku sudah berdiri di halam rumahku.
"Well,,thanks."
"Ya sama-sama."
"Mau minum dulu? I've hot chocolate."
"..........."
"Kalau gak mau gak papa sih,,hati-hati dijalan."
"Aku haus..dan lapar."
Sedikit demi sedikit kode terbuka, dua pasang makhluk penuh kode abstrak sedang menguraikan kode yang sebenarnya tidak rumit. Tidak, tidak terjadi apa-apa malam itu hanya perbincangan santai tapi jauh lebih hangat dan tertawa.
"Hei single lady jangan terlalu gegabah jadi wanita"
"Ha?"
"Motor, lain kali sebelum ditinggal dititipin dulu sama satpam kantor." Dan aku ingin membenamkan wajah dalam-dalam.

Seperti biasa aku menyampah disemua media sosial tell the world that im so happy!
"Who knows kalau coklat membawa berkah" shared by twitter.
"Aku masih haus, bisa buatkan coklat?" Oh My God! kode pertama berhasil terpecahkan! A chocolate!

Kantor adalah tempat yang selalu kurindukan selain rumah. Ruangan ini tentu yang terfavorit, karena kamu di dalamnya.
"Ruangan sepi nih, ramein dong"  Twitter please help me.
"Duh, masak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri, masang dasi bisa kali dipasangin :( " Status twittermu membuatku menatap pintu ruangan dan menghitung hingga hitungan kesepuluh apakah kamu memakai dasi atau..
"Hei single lady!" Kamu datang, dengan dasi belum terpasang!
"Mm..itu dasinya.." Aku gugup bodoh! Kode macam apa lagi ini.
"Oh,,biasa keburu-buru sis,, would you?" Kamu mendekatkan diri dan jarak kita tak sampai 30cm.
"Hh gimana mau promosi, masang dasi aja gak becus." Kupasangkan dasi dengan wajah yang sungguh panas, jantung bagaikan tabuhan seribu drum.
"Easy, pasangkan saja setiap hari sebelum aku berangkat ke kantor."
Aku tak menjawab dan tak menatapmu, kode diterima dan kode terlalu susah untuk dihadapi. Aku berlalu untuk mengambil air putih di meja berharap satu galon air dapat mendinginkan wajahku.
"Single lady,,"
"Ya?"
"Mau sampai kapan kita speak about codes?"
"Excuse me??"
"Codes.."
Kamu mendekat dan semakin dekat dan untuk pertama kalinya menatap dengan sungguh-sungguh.
"Ataya Raharjo,, My single lady..sudah waktunya kita mengakhiri kode-kode ini. Seharusnya sedari dua tahun lalu."
"Kamu.."
"Well, ini jam kerja sih. Jam lima sore sepulang kantor kita harus mengakhiri kode. Seterusnya tidak usah bersusah payah menaiki motor sendiri."
"A..apa?"
"Haha. Oh ya,, mulai besok kamu harus terbiasa bekerja disini sendiri."
"Hah?Apa?" Aku masih disengat puluhan tawon.
"Aku berhasil dipromosikan, besok ruanganku tidak disini. Baik-baik dan jaga sikapmu single lady, dan bersiaplah menjadi Ny. Reno Gemilang." Kau menatapku sekali lagi.
"E..wow..selamat tapi.."
"Terimakasih, dan sama-sama. Love you darl..since three years ago, still will be and forever"

Kode berakhir.





Minggu, 08 Maret 2015

Tak lagi buruk..

Diantara yang lain aku tak terlihat, nyaris dicampakkan. Berkumpul bersama mereka yang kau anggap sampah. Aku tak mampu berhias seperti mereka yang sering kau jadikan pilihan pertama, kedua, ketiga, bahkan urutan kesepuluh pun aku tak ada. Ah,,selalu disisimu, membantumu, bahkan akulah yang pertama ada ada tiap kali kau hijrah. Itu saja yang kau ingat tentangku. Selebihnya, seperti biasa kau injak harga diriku beserta keikhlasan yang selalu untukmu.

Aku tak bisa berdandan molek seperti yang lain sayang, tak rupawan dan menggairahkan. Mudah saja bagimu memilih yang lain, dan amat mudah saja bagiku mengalah beringsut ke sudut lain yang sangat kau harapkan. Rapuh, berkulit coklat dan kasar, lemah selalu menjadi bagian kalimat berjejer di kedua bola matamu, tak apa sayang sungguh tak apa. Aku yang buruk rupa mampu membawamu pergi hingga sejauh ini, berada di titik kejayaanmu. Kau tumpahkan segalanya padaku, kenanganmu bersamanya, mimpimu, karyamu, ceritamu, semua kau tumpahkan padaku. Aku cukup lapang untuk kehidupanmu, sungguh. 

Pagi tadi seperti yang sudah-sudah aku berujung pada tamparan keras di tubuhku. Terhantuk tembok adalah ritual yang semestinya. Kulit lecet tentu bukan masalah besar dengan harga diri yang sangat murah untukku. Tapi keberuntungan belum hilang sayang, aku dijemput oleh keberuntungan yang ku impikan. Dua tangan asing mengangkatku menjauh dari kehidupanmu, anehnya aku merasa pasrah dan lega luar biasa. Bukan karena aku membencimu, namun takdirku tak berada disisimu harusnya sudah kubaca. 

Aku resmi menghirup suasana hangat. Tubuhku dibalut dengan indah, secantik mereka dan tampak kuat. Dua tangan ini seakan ingin menyulap penampilanku dari luar dan membiarkan diriku tetap menjadi diriku apa adanya. "You are priceless, inside and outside", begitu kau ucap saat membalut tubuhku. Tak butuh waktu lama aku berdiri sejajar dengan yang kokoh. Tak lagi meringkuk di pojok ruangan atau di ruangan gelap. Inilah aku yang sekarang..kardus manis




Rabu, 11 Februari 2015

Kaca Spion

Selama liburan kuliah yang lumayan panjang ini akik lagi sibuk ngelancari nyetir mobil lagi. Agenda wajib tiap pulang kerumah, biar gak kagok. Terakhir nyetir udah tiga bulan lalu itupun cuma ngiterin rumah ke pasar yang jaraknya cuma 2km, dan cuma ada satu lampu lalu lintas, salah satu tempat horor buatku. Lampu lalu lintasnya sih gak horor yang horor kalo itu lampu pas ada di jalanan yang tanjakan. Aku selalu bermasalah kalo udah berhenti di lampu merah yang ada di jalanan yang agak nanjak, pas lampu udah hijau mobil gak mau jalan. Yaah masalahnya sebagai pemula pasti gak seimbangnya antara kopling, gas sama rem. Mending kalo dibelakang mobil kita sepi gak antri kayak orang mau ikut audisi, nah kalo rame yang ada irama klakson saut-sautan panjang, sepanjang lagu JKT 48, kan barbie atut..*b.a.r.b.i.e. Keringet dingin, panik, kaki gemeter dan malah gak bisa nginjek itu pedal-pedal, dan baru dengan kekuatan bulan selama tiga menit emosi mulai tenang dan pas udah tenang mobil mulai bergerak eeh lampunya udah merah lagi, drama b.a.r.b.i.e terulang lagi sampe jalannya datar sendiri. 

Sabtu, 31 Januari 2015

Rambut Panjang Coklat

Tanahnya lebih coklat dari kulitku. Ku genggam tapi jatuh luruh perlahan. Beberapa menit yang lalu aku masih ingin kembali turun ke bawah. Beberapa jam yang lalu aku bahkan tak ingin mendaki lagi dan lagi. Rok hijau zamrud yang kubeli semalam kini sedikit kecoklatan bertabrakan dengan pasir ini. Dari atas sini sungguh semua terlihat jelas, kau di bawah sana yang selalu berusaha menjatuhkanku. Dari atas sini kau terlihat kecil, hingga tak dapat menarik lenganku, menjambbak mahkotaku lalu membuangnya. 

Kamis, 22 Januari 2015

Kemala, Duri-duri dalam bangunan.

"Bu, masih jam empat subuh..Mala masih ngantuk." 
Mala kecil menatap roda sepeda pancal butut, matanya beralih ke keranjang yang sudah penuh dengan kardus makanan isi ayam goreng. Diliriknya selimut yang sudah ditarik oleh ibunya dan dilipat rapih. Ah tanda harus bangun seutuhnya. Mala masih duduk di TK A, tapi terpaksa jarang masuk sekolah karena harus ikut Ibunya keliling pasar menjajakan ayam goreng.
"Kalo siang, pelanggannya ilang. Ayo cuci muka, temeni ibu ke pasar. Abis gitu harus bikin kue." Si Ibu masih sibuk menghitung tumpukan kardus makanan di keranjang sepedanya.
Mala beringsut ke tepi ranjang, berjalan ke kamar mandi menatap wajahnya di cermin. Bulat dan berambut ikal cepak.

Minggu, 18 Januari 2015

Saya..

"Kamu ini lho, goblok nih..."
"Mau ngapain kok ambil PMDK di universitas swasta? mau jadi apa?aneh-aneh aja" 
"Kok ngambil psikologi? Mas ini lho disini...mending ini...mau jadi apa,,,"
"Eh shinta udah punya mobil loh,,
"Biarin aja biar punya mobil tetep aja ndeso ga bisa dandan, ga gaul..
"Oh psikologi? em,,mas mu lho bisa masuk di sini.....sekarang udah kerja di sini..bla bla bla..
"Terus kalo papamu kerja swasta gimana nanti kuliahmu..bla bla bla....

Rentetan kalimat di atas diucapkan oleh sahabat masa SMP, orang yang terhormat, tetangga dan saudara.

Jauh sebelum itu, aku juga pernah mendengar walau telingaku baru berusia lima tahun. Kedua orangtuaku yang berusaha menutup rapat-rapat telingaku dari remehan kotor mereka. Mereka menutup telingaku, dan berusaha keras membuka mataku lebar-lebar apa yang bisa aku tunjukkan pada mereka semua. 

Papaku selalu bilang, biarlah orang sibuk mengomentari kita sementara kita sibuk menjadi orang hebat hari demi hari. Sementara mereka menumpuk dosa, kita menumpuk pembuktian. 
Aku hanya ingin mengutarakan ini dear orang yang tampaknya baik..

Aku memang bukan tipe perempuan yang suka berdandan ala cewek-cewek remaja kekinian. Tidak seheboh seorang sahabat yang pernah dulu dengan manisnya mencibirku. 

Aku memang bodoh saat itu, tak pernah setega itu membalas umpatanmu hai teman..tapi akan lebih bodoh lagi saat aku menjadi dirimu yang sekarang :)

Aku memang tidak memiliki orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri, tetapi alhamdulillah keluargaku tak pernah mengusikmu wahai orang-orang yang sibuk mencibir..

Saya memang memilih perguruan tinggi swasta karena TIDAK semua PTN itu sempurna bapak..alhamdulillah saya sedikit lebih cerdas memilih dan dalam memiliki sudut pandang. terimakasih.

Saya memang memilih psikologi, karena tau banyak orang sedang sakit disekitar saya siapa tau kalian butuhkan demi jiwa yang lebih tentram nantinya, amin.

Semua yang pernah mengolok, mencibir, meremehkan saya..terimakasih berkat bantuan kalian saya bisa beberapa langkah didepan. Berkat kalian saya bisa membuka mata bagaimana caranya berlari mengejar mimpi saya. Berkat kalian juga saya tahu caranya bertahan dari istilah "dunia itu kejam" sedari kecil.

Menjadi kuat dan berhasil adalah pilihan dan bentukan dari apa yang telah kita terima.