Viewer

Sabtu, 04 Januari 2020

Cara Kerja Manusia

Ya Aku sedang marah, mari kita bicarakan.

Merutuki diri sendiri acapkali terjadi saat otak sedang malas bekerja. Kosong dan sedang tidak memililki kesibukan yang berarti, sehingga ada waktu untuk berdiam diri. Bagus jika diamku adalah untuk menghasilkan evaluasi diri, mencuci pikiran yang sering disebut kotor, membersihkan hati yang mungkin kemarin terselip amarah. 

Ternyata, yang muncul bukan evaluasi. Sama sekali bukan. Semua hal baik yang sudah terjadi kemudian hilang entah menguap ke belahan dunia lain. Aku marah akan hal yang tidak tercapai. Aku marah akan yang sudah kulakukan. Aku kecewa karena aku tidak bisa melampiaskan amarahku, aku kesal dan ingin memaki mereka, tapi tidak pernah kulakukan. Aku hanya marah dalam imajinasiku.
Aku bermimpi aku memaki mereka, memukul tepat di mulut, mata atau bagian lain yang menjadi tepat. Aku membayangkan membalas apa yang sudah kalian lakukan dan katakan. 

Semua menghantam begitu dahsyat di ulu hati. Aku harus mengontrol amarahku dan belajar lebih memaafkan, kata mereka. Aku merasa tidak diijinkan meluapkan dan mengatakan bahwa aku sedih, aku tidak suka, dan aku marah. Mengeluarkan nada sedikit tegas akan membuat terdengar keras dan penuh kebencian. Aku kembali diam. 

Kembali kedalam pelukan diri sendiri.

Aku tertidur dan percayalah tidak pernah ada rasa aman dan damai dalam tidur. Semua yang kutahu disebut unfinish business selalu bergantian mengucapkan "Halo selamat malam, mimpi kali ini giliran aku yang menguasai ya" 
Bahkan untuk memikirkan bahwa aku sedang marah saja membuatku merasa bersalah. Memikirkan kekecewaan akan hal yang tidak terjadi juga membuatku merasa terlalu berlebihan. 
Aku akrab dengan berbagai istilah yang mereka sebut lebay jika kamu memikirkan semua perkataan orang yang menyinggung, atau sekedar merasa sedih atas sesuatu. 

Aku belajar untuk melihat semua biasa saja. Menerima bahwa semua orang tidak sama, dan mereka juga berhak untuk berkata kasar, bertindak bodoh, dan mean to you. 
Aku belajar untuk tidak sensitif (seperti yang mereka sebutkan). Menghindari perasaanku sendiri. Menjadi sekuat-kuatnya manusia.
I'm taking over my own feeling. 

Tunggu dulu. Bukan begitu cara kerjamu sebagai manusia. Aku akan menjadi hancur oleh diriku sendiriku. 
Perlahan, aku mengajak diriku sendiri untuk menjelajahi semua amarah, sedih dan kecewa yang pernah dan sedang terjadi. Kupersilakan semua benar-benar masuk dalam pikiranku. Aku duduk diatas sajadah kali ini. Aku sudah memohon kepada Tuhanku jika mereka masuk ke dalam pikiranku jangan biarkan mereka bertindak bodoh. Aku percaya pada-Nya, lagipula aku juga diciptakan-Nya. Aku coba pelan-pelan, memikirkan semua hal yang sudah datang belasan tahun lalu, beberapa tahun lalu, beberapa bulan lalu, kemarin, dan hari ini. Segala yang membuatku merasa tidak nyaman dan aman. Aku siap jika ada yang pecah dalam diri ini sebentar lagi. Basah, sangat basah dan aku tidak berusaha menghapusnya dari wajahku. Bibirku gemetar mengucapkan segala yang ingin kusampaikan. Semua hadir tepat di hadapanku, bahkan diriku sendiri saat masih memakai baju lima tahun. 
Saat terlalu rapuh justru Aku merasa semakin kuat dan benar-benar menjadi manusia yang menerima.

Tidak apa jika merasa marah, kecewa, sedih, dan terluka. Sampaikan jika ingin disampaikan. Karena kamu merasa tersakiti maka sampaikanlah dengan baik agar mereka tidak sampai merasa sakit juga. Bukan agar hanya kamu yang merasa sakit, tapi agar kamu berbeda dengan mereka. Kamu menguasai perasaanmu dan mengajarkan sesuatu untuk dirimu sendiri. 
Tidak apa menjadi sensitif, kamu peka akan sesuatu yang mungkin tidak mereka sadari. Kamu menjadi selektif memilih kalimat, mendengar obrolan, menangkap maksud tersembunyi, mengolah informasi penting, apapun yang sedang sampai ke inderamu. Sampaikan kegelisahanmu dengan cara yang tepat.


Akan selalu ada tempat untuk keunikan setiap diri. 
Aku menerima diriku 

Sabtu, 02 Februari 2019

Runtuh

Mengarungi titik sebelum runtuh
Mencoba berkali-kali mengingat
Ketika pertama janji diucap
Terlewatkan semua cerita dan jalan itu

Adakah teringat semua yang lalu
Agar bisa kembali menjadi utuh
Apakah ingatan itu indah
Agar tidak menjadi rapuh

Tenggelam semua cerita kau dan aku
Terhanyut amarah dalam detik
Terpukul hatimu dan hatiku
Terhanyut isak tangis dalam detik

Mengarungi titik sebelum runtuh
Mencoba berkali-kali mengingat
Ketika pertama janji diucap
Terlewatkan semua cerita dan jalan itu

Adakah kita saat ini
Atau tersisa kau dan aku dengan terpaut ego
Adakah kita saat ini
Atau tersisa cerita amarah

Sabtu, 07 Juli 2018

Relakanlah

Kalau waktumu merasa terbuang percuma karena memori yang terbangun cukup lama, maka sebenarnya kamu tidak mendapat pelajaran apapun selain lelah.

Aku samasekali nggak menyesali apapun. Bukan karena aku yang memilih pergi. Karena waktu beserta memorinya juga bagian terindah yang pernah secara sukarela hadir. Aku bersyukur pernah diberi kesempatan mengenal dia yang sebegitu baiknya dan pada akhirnya aku jadi menemukan seperti apa diriku, lalu mengalah. 

Tidak cukup menjadi baik saja untuk bisa bersama dengan seseorang seumur hidup. 



Teruntuk kamu,

Tidak ada yang meragukan betapa baiknya kamu. Bahkan kamu juga mungkin yang diimpikan mereka. Aku akan dengan senang hati menepuk wanitamu nanti dan bicara bahwa kamu punya mata dan hati yang teramat tulus. Siapapun akan suka saat kamu menatap pasanganmu, termasuk aku di waktu-waktu itu. Siapapun wanita itu memang benar beruntung kamu yang mencintainya, seperti aku di waktu-waktu itu. Kamu adalah pria dengan sejuta kejutan. Kamu mungkin dilahirkan memang untuk membuat orang senang. Kamu adalah pria berhati lembut. Kamu juga mungkin dilahirkan memang untuk membuat damai. Namun sekali lagi, aku yang seperti batu. Aku yang tak perlu bunga, aku yang tak perlu coklat, aku yang tak perlu itu semua, aku perlu ucap ketegasan dan keyakinan. Dan memang bukan salahmu, kamu memang tercipta untuk suatu kelembutan, seperti air yang mengalir, sungguh perlu kamu mencari wanita sehebat itu juga.  

Sudah banyak usaha yang kita berdua lakukan sedari awal. Aku ingin bermuara disana, di semua kelembutan dan kebaikan itu, pada waktu-waktu itu. Kita berdua tumbuh dan semakin memahami kita punya hati masing-masing yang memang bukan untuk saling berhenti. 
Sekuat apapun usaha yang pernah dilakukan, tahun demi tahun, rupanya hadir untuk mendewasakan diri kita masing-masing. Pun sejatinya ketidak beranian itu kau pilih karena aku juga tidak mampu meyakinkanmu. Segala daya dan upaya ucapanku memang perlunya hanya singgah, bukan mengajakmu pada tindakan.

Sampai pada satu titik muncul pertanyaan, akan kemanakah semua ini bermuara? harus berapa lama?
Sungguh, ternyata sebuah jawaban yang memberi jalan untukku  "keluar" dari cerita yang bertahun-tahun itu. Kamu, meminta diri ini untuk menunggu hingga ku lelah dan menyerah akan dirimu.

Cukup sekian jika begitu,
Tidak ada yang salah pun benar.
Akhir yang sudah kau dan aku duga bukan?





Sabtu, 02 Desember 2017

Jaman Now

Libur lumayan panjang nih (tiga hari adalah panjang bagi kaum-kaum pengendus rehat dari rutinitas kantor). Mati gaya. Bingung mau ngapain, dan dua pelarian adalah kalo nggak ngegambar ya nulis. Terus bingung, mau nulis apa ya. Muncullah ide untuk melempar kebingungan di instagram berharap ada yang sukarela ngasih masukan. Ternyata netijen ada yang berbaik hati ngasih saran nulis tentang cinta-cintaan hm.. penulisnya aja bingung sama kisah cintanya hendak bagaimana bahahahak. Lalu muncullah saran dari temen kantor, "nulis aja tentang kids jaman now dari sudut pandang psikologi". Ide yang menarik walaupun sesungguhnya kawan, shinta dewi bukanlah psikolog perkembangan dan anak, melainkan psikolog bagi kaum kapitalis hahaha. Tapi menarik juga sih sama fenomena kids jaman now yang ternyata merata ya ga cuma di satu dua kota aja.

Sebenernya kids jaman now kalo dipikir-pikir pasti ada di setiap jaman. Mungkin dulu saat kita di seumuran mereka, kita dianggap "kids jaman now" juga sama orang-orang yang lebih tua atau dewasa. Pada saat aku SMA aku ngerasa udah dewasa dan mungkin juga berlebihan dalam nanggepin sesuatu yang ternyata saat aku kuliah aku ngeliat anak SMA sekarang lebay juga. Nah, aku ngerasaian di dua posisi jadi pelaku kids jaman now (KJN) dan pelaku yang ngatain kids jaman now hahaha. Cuma yang bikin beda adalah kadar perilaku sebagai KJN yang akan terus berubah menurutku, dari tahun ke tahun. Bisa beda karena pengaruh lingkungan, karena pengaruh jenis pola asuh mereka di keluarga, atau pengaruh media sosial.

Aku tertarik bahas ini dari psikososial teori dari Erikson. Banyak celetukan tentang kenapa sih anak-anak jaman sekarang kok tingkahnya aneh-aneh, pacarannya udah kayak sinetron-sinetron dih bikin malu, atau komentar tentang penampilan mereka yang banyak terkesan lebih dewasa daripada umurnya, suka bikin vlog sok-sokan jadi vlogger endorse sana sini padahal yang katanya di endorse itu adalah squishy bekas dia buat mainan :)), dan banyak lagi kelakukan "ajaib" para KJN ini. 

Jadi gini, kalo menurut teori perkembangan psikososialnya Erikson kita itu mengalami delapan tahapan, coba mari kita pahami secara singkat nyaw:

1. Trust vs Mistrus (Percaya & Tidak Percaya; 0 - 18 Bulan)
    Anak mulai memahami rasa ketergantungan nih, pelajaran pertama bagi mereka terhadap lingkungannya, rasa percaya atau tidak percaya pada orang asing di sekitarnya. Kalo kebutuhannya (baik kasih sayang, kedekatan maupun kebutuhan basic seperti makan) terpenuhi dari orang terdekat mereka (misal ibu atau pengasuh), maka anak akan merasa aman dan percaya. Tapi, kalo tidak terpenuhi, maka anak bisa tumbuh jadi orang yang selalu merasa tidak aman susah percaya sama orang lain, selalu skeptis. 

2. Otonomi vs Malu & Ragu-Ragu (18 bulan - 3 tahun)
    Anak mulai belajar melakukan beberapa hal secara mandiri, misalnya makan sendiri atau berjalan. Tahap ini orangtua belajar untuk memberikan kepercayaan pada anak agar mengeskplorasi sendiri dengan bimbingan mereka tentunya. Nah, sebaliknya kalo terlalu membatasi dan keras pada anak, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang pemalu dan penuh keragu-raguan, kurang mandiri dan lemah. Yaa bayangin coba, dia ditahan untuk mengeksplor sesuatu dari kecil, gedenya bisa jadi atutttt nyoba hal baru. 

3. Initiative vs Guilt ( 3 - 6 tahun)
    Anak prasekolah udah mulai mematangkan kemampuan motorik, maupun bahasa. Anak mulai mengeksplor lingkungannya dan muncul inisiatif untuk melakukan tindakan tertentu.Nah, kalo orang tua selalu ngaish hukuman atas inisiatif anak, akibatnya si anak akan selalu ngerasa bersalah atas dorongan alaminya untuk mengambil tindakan. Tapi, inisiatif yang sifatnya berelbihan juga tidak benar, karena anak cenderung tidak peduli pada bimbingan orang tua. Kalo inisiatifnya yang terlalu sedikit, maka anak cenderung berkembang jadi pribadi yang tidak peduli. 

4. Industry vs Inferiority ( 6 - 12 tahun)
    Anak mulai terlibat dalam interaksi sosial nih, mulai belajar mempunyai rasa bangga akan identitasnya. Adanya dukungan dari orangtua,guru,lingkungan sekitar akan membangun perasaan percaya diri dan perasaan kompeten pada dirinya. Taaaapi kalo si anak kurang dapet dukungan saat dia ngerasa gagal, waini..si anak tumbuh jadi anak yang rendah diri dan gak produktif.

5. Identity vs Role Confusion (12 - 18 tahun)
    Masa-masa pencarian jati diri nih. Apaakah akuh seorang putri yang tertukar??jangan-jangan aku Diana Prince?? Aku mau jadi mbak Selgom ah! Aku mau punya fans juga, buka endorse ahhhh..endorse bedak biang keringat. 
Masa-masa ini remaja banyaaak banget mau coba hal baru untuk tau jati diri mereka. Biasanya mereka akan cari temen yang punya kesamaan untuk sama-sama cari jati dirinya hahaa. Masalahnya adalah lagi-lagi peran dukungan orang tua. Ketika hal itu tidak terjadi, si anak bisa mengalami kebingungan identitasnya.

6. Intimacy vs Isolation (18 - 35 tahun)
    Mulai masuk dewasa muda nih saat seseorang mulai siap membangun hubungan yang lebih dekat atau intim dengan orang lain. Kalo orang itu gagal dalam menjalin hubungan bisa membuat ia merasa terasing dari orang lain, hampaaaahh nestapaaah hidupku tanpaa dirimuu owowowowow.

7.Generativity vs Stagnation (35 - 64 tahun)
   Tahap kedua dari perkembangan kedewasaan. Udah mulai punya mapan secara karir maupun percintaan atau dalam aspek kehidupan lainnya. Tapi saat ia merasa nggak nyaman sama proses kehidupan yang ia jalani, yang muncul adalah penyesalan atas yang telah terjadi di masa lalu dan ngerasa HIDUP GUEEEH GITUH-GITUH AJACH UNCH. 

8. Integrity vs Despair (65 up)
    Flash back nih tentang jalan cerita kehidupan seseorang. Mereka akan mencari cara untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah yang sebelumnya tidak selesai, nah kalo berhasil melewati fase ini maka ia akan tumbuh jadi pribadi yang bijaksana bukan bijaksana bijaksini eiym. Tapi, kalo gagal biasanya akan jadi pribadi yang putus asa huhuhu. 


Kalo kita kaitin KJN sama masa perkembangan mereka sebenernya mereka lagi menaiki tahapan demi tahapan. Saat mereka lagi berusaha nyari jati dirinya yang mungkin dia susah menemukan jawaban "mau jadi apa sih aku","mau jadi siapa sih aku?","mau ngapain sih aku?" tiba-tiba dunia ini menawarkan satu media yang mampu menjawab pertanyaan Anda saudara-saudara! Tinggal pantengin maka Anda akan tau jawabannya!

Sosial media maupun segala bentuk entertainment mau gak mau adalah media terindah yang bisa dimiliki siapapun dengan mudah. Terlebih bagi mereka-mereka yang bingung tadi, mereka bisa mencontoh dengan mudah perilaku yang mungkin dirasa "cocok" atau jadi "idaman" bagi mereka untuk ditampilkan di lingkungan. Saat dia bingung sama identitas barunya dia akan nyari sekumpulan teman yang memiliki kebingungan yang sama dan tentu saling mendukung sikap satu sama lain, ya wong sama-sama bingung ya. Saat mereka bingung gini, bisa jadi peran orang tua tidak lebih kuat daripada peran media tadi. Gimana komunikasi yang dibangun di dalam keluarga, apa orangtuanya justru menertawakan saat si anak misal berperilaku sok marah-marah kayak acting di sinetron dan menganggap itu hal yang lucu, jadi sikap itu semacam reward buat si anak dan akan diulang. Kalo kita liat KJN ini kan bisa masuk di tahapan 3,4 dan 5 ya, mereka lagi bangga-bangganya nih sama diri sendiri, nyoba segala hal baru yang menarik tujuannya untuk tau apa yang cocok buat dia. 

Saat nemuin KJN pacaran so mesraaah banget di public tanpa tedeng aling-aling sementara you nestapa cuma ngemut kembang gula sendirian, itu berarti you lagi di tahap inferior wkwkwkwk ga ding. Itu terjadi yaa bisa jadi karena tontonan yang mereka tau adalah seperti itu, mereka mau coba, kalo cocok mereka akan teruskan kalo engga mereka akan coba yang lain. 

Sebenernya nggak cuma KJN ya yang berkembang, ada emak-emak jaman now, pergaulan jaman now, pacaran jaman now, pelakor jaman now, semua serba jaman now. The main problem menurutku berarti ada di perkembangan jaman sebagai stimulus netral yang membuat kita sebagai homo sapiens ini merespon dengan beragam cara. Cara kita merespon ini lah yang balik lagi gimana dulunya kita dibentuk saat melewati tahapan-tahapan perkembangan. 

Remember, mungkin dulu kita juga dianggap KJN oleh mereka yang lebih dewasa, kita ngga sadar dan menganggap itu normal. Mereka pun. Dulu kita pernah mencari jati diri bahkan mungkin sampai detik ini (?). Sekarang para KJN sepertinya juga sedang mencari, semoga lekas ditemukan dan nyarinya diwadah yang tempat,mudah-mudahan yang nunjukin arah untuk nyarinya juga tepat dan dengan cara yang bijaksana bukan orang yang juga masih sama-sama gamang dan tersesat. 

Jaman Now adalah stimulus netral. 

Tergantung responmu apa anak muda :))



Minggu, 17 September 2017

Kamu dan Playlist

Laut yang berbeda untuk menemukanmu. Jarak tempuh yang berbeda untuk mencarimu.
Air, angin, matahari, dan kamu seperti sudah menyambut sejak saat ini. Aku suka ini semua dengan segala playlist lagu-lagu indie folk kesukaanku. Hanya kusuka saat aku akan bertemu denganmu melewati laut, pepohonan cemara, dan berujung pada kamu. Sekumpulan musik indie folkku, hanya kusuka saat aku akan bertemu kamu. Selebihnya jika aku mendengerkannya tanpa akan betemu kamu, sungguh menyedihkan. Seakan ingin meminjam jubah superman lalu berdiri di depanmu. Seperti saat aku menulis ini, nyatanya tidak ada laut, tidak ada air, akupun sedang tidak terpapar sinar matahari, tapi sialan! aku memutar playlist ini hanya demi berkhayal aku sedang melakukan perjalanan untuk menemuimu. 

Aku tahu kamu tidak akan pernah beranjak dari tempatmu. Aku bisa datang kapan saja tanpa khawatir kamu pergi seperti yang lain. Aku tahu kamu akan memberikan hal istimewa seperti biasanya. Menggelitik jemari kakiku, mengajakku berlari kecil, membasahi setiap jengkal kaki, tangan kemudian tubuhku. 

Ini baru lagu ketiga dan aku sudah bisa mencium wangimu, sambutanmu, dan suaramu. Semuanya menerpa halus wajahku..pelan..hangat..basah..kemudian sesak. Aku menemuimu sendiri. Aku bercerita banyak hal yang tak satu pun kau alami tapi mampu kau pahami. Kamu membiarkan segala emosiku luruh tanpa pernah mengeluh, kamu memberikan ruang untukku. Seperti saat ini, bahkan saat jauh, hanya dengan mendengarkan musik kita berdua, aku mampu bercerita seakan dihadapanmu. Hanya menatapmu semua cerita sudah tersampaikan.

Musik berhenti,aku pun berhenti memikirkanmu.
Aku butuh seseorang yang akan selalu kuingat tanpa stimulus semua lagu ini.

Musik kembali berputar, aku mulai berpikir akan mengunjungimu dengan seseorang atau bisakah aku menemukan seseorang disana?. 

Dear, pantai..
Hari ini aku sengaja memutar musik kita berdua agar fikiranku saja yang mampu bertemu denganmu.


Jumat, 19 Mei 2017

Waiting Room

Waiting room in an airport
Beberapa raut wajah yang sedih, menatap layar handphone, mungkin sedang melanjutkan pamit perpisahan dengan keluarga atau pasangan..
Beberapa nampak murung, menerawang, mengecek jadwal keberangkatan berkali-kali seakan-akan tidak ingin beranjak pergi, atau bahkan ingin segera enyah.
Beberapa sibuk menenangkan suara anaknya di seberang pulau sembari meyakinkan bahwa ia akan segera tiba beberapa jam kemudian..
Beberapa yang lain justru terlihat bahagia, ingin segera keluar dari ruang tunggu dan tak sabar ingin segera tiba di muara yang di rindu.

Ruang tunggu seperti jembatan untuk segera bertemu atau justru ingin segera meninggalkan..
Jembatan yang menyimpan magnet dan menunggu apakah kita setelah meninggalkannya, akan bisa kembali atau tidak.

Kamis, 11 Mei 2017

Pesan Lama

Pernah nggak sih kalian ngerasa jadi manusia angkuh dan kurang bersyukur. Ngerasa kenapa beberapa hal yang terjadi sama kamu itu kurang adil, padahal kamu ngerasa udah ngeluarin semua kemampuanmu. Berakhir pada menangis dan menyakiti pikiran sendiri, membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Aku bahkan melupakan satu pedoman dasar keilmuanku bahwa setiap individu itu berbeda. Beberapa tahun terakhir aku berubah jadi manusia menyebalkan seperti ini. Semua bermula saat memasuki pendidikan S2 ini, begini kisahku..

Tiga tahun lalu setelah lulus S1 aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2. Simple sih alasannya, aku seorang perempuan dan calon ibu, aku mau tetap bisa bekerja dirumah dengan tetap mengurus keluargaku nanti, dan dengan gelar psikolog nantinya akan memudahkan itu terwujud. 
Ternyata masuk ke dunia baru ini diluar bayanganku, sangat tidak mudah hahahaha. Yah, even aku berhasil lolos ke salah satu PTN di Surabaya ini, cuma setelah menjalaninya wow seakan aku harus berenang dengan sisa oksigen yang menipis, yang padahal berenang aja nggak bisa hahaa.  Bukan bego-bego banget sih, cuma budaya belajar di tempat baru itu sungguh 180 derajat berbeda. Cuma alhamudillah aku dikelilingi teman-teman yang baik banget dan ya pinter-pinter luar biasa walaupun kelakuan minus tapi they are amazing for sure!.

Tahun pertama kuliah, aku kayak mengulang dan memahami materi demi materi semasa S1. Ada masa matrikulasi dimana aku gagal dan wajib ikut kelas lagi di materi Teori Organisasi. Rada malu sih soalnya ngulangnya barengan sama anak S1 hahahaha, but hey the show must go on kan wkwkwk. 

Tahun kedua aku mati-matian memahami arti kesabaran dan mengontrol emosi. Mulai muncul sifat mengeluh berkepanjangan kayak kemacetan Jakarta. Tahun kedua ini aku mulai masuk di mata kuliah Praktek Kerja Profesi Psikologi (magang) dan ditempatkan di salah satu perusahaan BUMN. Mulai dari sini aku nggak cuma dihamparkan ilmu pengetahuan baru tapi juga bolak-balik disadarkan arti kesabaran yang ehhhh luar biasa baru kali ini aku bener-bener belajar ngerasain dan juga berujung pada kalimat "yah udahalah ya". Harus ngekost di dua tempat karena tempat magang di luar kota, which is biaya lagi. Harus manage waktu antara ngerjain tugas kuliah dan tugas dari perusahaan. Harus nemuin kesepakatan antara kebutuhan akademis dan kebutuhan praktis. Nggak bisa ngontrol orang lain pas lagi butuh banget kerjasama mereka untuk keperluan kedua belah pihak. Nggak bisa ngontrol jadwal dosen yang emang sudah patennya begitu. Ngeliat ada temen yang ternyata udah kelar sementara kita masih kejar-kejaran sama waktu dan subjek yang tak pernah menunggu. Semua berujung pada tangisan ala anak gadis yang lebih kejer daripada kehilangan lipstick yang baru dibeli.
Kalian pernah gak sih tiba-tiba nangis padahal gak lagi diapai-apain?. Bukannya hiperbola sih cuma ini beneran kejadian hahahaha, beberapa kali aku di mobil nangis sendirian sekejer-kejernya. Ngerasa cuapeeekkkkk banget secara emosional. Sampe kost buka pintu kamar seakan gak kenapa-kenapa, ketawa-ketiwi sama temen kost. Begitu waktunya sholat kelar terus ditelpon mama aduh ambyar bubar jalan lagi itu ketahanan diri, semua airmata bercucuran dari pipi tebal ini. 
Ada banyak hal yang gak bisa kamu kontrol selama PKPP nanti gaes (bagi dedek-dedek yang mau ambil Mapro). Aku dan hampir semua temenku mengalami kegundahan ini. Ada cerita subjek yang seharusnya udah di masa feedback tiba-tiba meninggal. Ada yang harusnya kita udah ditahap pengetesan tiba-tiba subjeknya dipindah tugaskan ke luar kota, atau bahkan resign :))))))).
Pokoknya selama masa ini aku jadi manusia kufur nikmat banget lah. Bukannya memperbanyak ibadah malah memperbanyak keluhan, asli. 

Masuk di semester ke-5 waktunya thesis. Aku kira ini bakal lebih menarik karena aku sudah bosan sebosan-bosannya ngerjain PKPP hahahaha. Menarik sih cuma perjuangannya juga gak kalah beratnya sama PKPP. Kali ini perjuangannya ada di dosen dan aku. Kebetulan aku dapat dosen yang emang sibuk banget tapi aku memang milih beliau karena aku suka cara beliau membimbing dan berpikir, my favorite ones lah, jadi gapapa deh sibuk-sibuk yang penting aku nyaman saat bimbingan dan gak keder duluan huhuhu. Menunggu dosen terasa lebih melelahkan daripada kamu nungguin pacarmu yang ga dateng-dateng karena kejebak macet, atau kejebak di rumah mantan hahaha. Mulai dari jam 07.30 - 17.00 pun aku dan beberapa rekan sejawat lainnya pernah ngalamin nungguin dosen selama itu, tak beranjak dari depan ruangannya (kecuali sholat dan brunch). Tentu tidak serta merta jam lima sore itu jadi bimbingan lho, ada kalanya dosen tiba-tiba ada urusan mendadak dan berujung pada ntah kapan. Mereka emang nggak cuma ngurusin kita sebiji sih hahaha. 

Sepulang dari setiap penantian yang tak bertemu itu selalu ada rasa cekit-cekit di hati. Lebih sering menatap nanar pada tumpukan laporan, kuesioner, dan tembok. Rasanya pengen banget mukulin tembok. Mungkin ini cuma aku sih yang ngerasa seemosional ini. Dari aku kecil kedua orangtuaku sama sekali nggak pernah nargetin aku untuk jadi juara apapun, malah mereka ngasih fasilitas-fasilitas semampu yang mereka bisa. Kondisi ini yang ngebentuk aku tumbuh jadi anak yang rada penuh guilty pleasure gitu kalo nggak bisa ngasih yang terbaik buat mereka. Pernah aku cerita ke mereka soal GPA ku yang ga bagus-bagus amat dan mereka sama sekali nggak marah dan aku justru mengiba untuk dimarahi saja -_____-". Setiap keberhasilan yang aku raih aku pikir itu buat mereka, dan setiap kegagalan yang aku raih aku sedihnya karena aku gak bisa ngebuat mereka bangga (walaupun mereka tetep bangga). Aku kuliah Psikologi tapi aku nggak bisa ngontrol diri sendiri huhuhu, mindset yang salah dan nyusahin diri sendiri. Hasilnya aku banyakan nangisnya daripada bersyukurnya. Aku berfokus pada apa yang belom aku punya, pada apa yang aku pengen, dan lupa kalau selama ini yang udah terjadi dan terlewati itu juga anugrah dari Allah SWT. Aku terkesan mengabaikan semua kebaikan-Nya, mengabaikan semua kesempatan baik yang udah aku terima dan aku jalani sampai saat ini. 

Pada akhirnya alhamdulillah semua terlewati, hampir terlewati. Sepuluh ujian/sidang selama S2 sudah terlewati dengan haru. Ternyata lagi-lagi kesabaran diuji dengan salah satu dosen sampai detik ini belom bisa memberikan sign untuk hasil revisi sidang dikarenakan beliau sedang menjalani operasi. Aku sedih karena beliau juga pasti pusing dan lelah ngurus segala banyak hal, aku juga bingung what should i or we do. Tapi soal ini insha allah ada jalan keluarnya. Cuma aku jadi belajar sesuatu atas semua yang terjadi.
Aku ngelihat lagi setiap hal yang udah terjadi dulu bahkan sampai sekarang, pesan apa sih yang coba disampaikan Tuhan buat aku pribadi. Aku ngelihat dan beberapa kali membandingkan antara aku dan temen yang jalannya semulus kulit mbak-mbak SK II. Kok aku begini ya?. Apa ada pesan yang aku lewatin ya?. Apa ada pelajaran yang aku abaikan ya?
Aku Gak Sepenuh Hati Bersyukur.
Memang setiap doa aku mengucapkan terima kasih pada Yang Maha Kuasa. Memang aku mengucapkan alhamdulillah ketika aku mendapatkan sesuatu. Ketika aku mendapatkan kesusahan?aku nggak menganggap itu juga pemberian dari Allah SWT. Aku lupa kalo aku diberi kesempatan diterima di PTN ini juga karenaNya, aku lupa kalo sampai saat ini aku diberi kesempatan menyelesaikan S2 ku juga karenaNya. Setiap saat kedua orangtuaku berdoa tapi aku sibuk mengeluh dan gak benar-benar mensyukuri apa yang udah ditanganku, aku terlalu fokus pada yang tidak terjadi dan yang ingin terjadi. Aku sadar semenjak pertengahan semester kemaren aku cuma dihadapkan pada pilihan pasrah sama Allah, cuma itu. Aku kayak ngerasa gak punya cara lain selain itu. Nggak mudah buat tipe pribadi yang kayak aku gini buat menerima kegagalan secepat yang lain. Ada orang yang mudah untuk berdamai dengan dirinya. Nah, aku sadar aku bukan yang begitu dan aku nggak suka diriku yang begitu. I'm overthinking?yes. Tapi bukan dalam hal pekerjaan atau tugas sih, lebih ke apa yang sudah aku lewati dan yang akan aku lewati. Aku berfokus untuk menyenangkan orang lain. Tapi dengan begini aku jadi sadar, dari awal masuk S2 Allah itu ngasih pesan dan pelajaran buat aku jadi pribadi yang lebih sadar, which is ini bukan aku banget sejak jaman dahulu kala hahahahaha. Allah juga ngasih kesempatan aku buat belajar lagi ngedeketin diri dan merayuNya lebih dalam, yang dimana juga dulu ini kacau balau. Allah nyuruh aku memasrahkan segala apa yang sudah aku buat kepadaNya, biarkan Allah yang melihat, menilai, dan memutuskan yang terbaik bagiku. Aku baru bener-bener paham sekarang apa yang terbaik buat kita belum tentu terbaik menurutNya. Allah nyuruh aku buat memperbaiki kualitas diriku secara emosional, batiniah, karena aku tau aku kurang disitu. Melalui segala jungkir baliknya kuliah ini yang gak pernah terbayangkan sebelumnya hahahha. 

Setiap orang menghadapi masalah dan mengatasinya dengan cara berbeda, dan Tuhan pasti memberi pesan berbeda-beda pada umatnya. Setiap ujian pasti ada pesan yang baik, aku sekarang percaya banget ini. Tuhan berusaha menegur dengan ujian itu agar kita cepet sadarnya, mungkin semakin keras ujiannya biar kita semakin denger pesannya.Ibarat kalo kita bertamu mau nganterin sesuatu ketika kita mengetuk pintunya pelan, si empunya rumah ga denger dong. Tapi, kalo kita kencengin dikit, maka pintu dibuka dan pesan/hantaran yang kita bawa akan sampai. 

Teruntuk diriku yang mungkin akan membaca ini nanti, ingatlah semua perjuanganmu, orang-orang yang mendukungmu, ingatlah semua ujianmu karena Allah SWT ingin memberimu pesan kebaikan.
Segera temukan.