Viewer

Rabu, 22 Oktober 2014

Hati Yang Kau Lewatkan

Dear: hati yang tak dapat di singgahi.

Aku cemburu. Dua kata ini merasuki setiap jengkal nafasku. Tatapan mata tak pernah lepas untuk mengintipmu dari tembok pemisah ini. Mencuri-curi kesempatan yang diberi. Aku masih tak habis pikir, do i looks like a monster?atau patung tak bernyawa dan beraura?. Tidakkah aku pantas bagimu wahai manusia di ujung sana. 

Kebekuan itu hanyak kau tujukan untukku, tak pernah sekalipun kau tertawa karenaku. Menjerit tanpa pernah terdengar, menghela nafas panjang untukmu yang memejamkan mata untuk manusia di ujung sini.

Aku melewatkan banyak hal tentangmu,,atau memang aku kau lewatkan begitu saja. Berapa lama sudah jam pasir berganti posisi. Tetap saja akhirnya kau disana aku disini.


"Masih melihatnya?" elusan tangan hangat mampir di pipiku yang tak lagi kencang.
"Kau lihat, dia begitu bahagia. Dia selalu bahagia. Tapi tidak ketika bertemu denganku." 
"Dia bukan tak bahagia,,dan dia bukan tak melihatmu. Dia sibuk melupakan perasaan sesungguhnya untukmu."

Wanita disampingku dengan paras yang sungguh luar biasa indahnya, memegang erat tanganku. Tau akan reaksiku yang bagai tersambar petir.

"Aku tau, kau berteman dengannya sekian lama. Kutemukan ini di tumpukan buku bekas miliknya. Bacalah..."

"Haha,,susah sekali mengabaikan tawamu. Ternyata semakin ingin kutarik lenganmu dan tertawalah hanya padaku. Buatlah aku tertawa lagi dan lagi. 

"Bangsat! Kenapa bersedih! Tulisanmu sudah ku baca,,tapi apalah daya..

"Ini tahun ke dua kita bersama..besok aku akan merelakan saja. Bersama nyatanya tak mampu mengikat perasaan. Baik2 disana.
 
"Kau datang,,cantik sekali. Tapi istriku lebih cantik. Mudah2an kau musnah. 

Semua kubaca perlahan,menikmati setiap goresan tulisan yang kukenal betul. Tegas dan jelas. 
"Ini terakhir dia menulis" ujar wanita cantik disebelahku, masih memegang erat tanganku.
"Karena hari itu kalian menikah...." 
"Dia begitu kuat melupakanmu. Tapi, ternyata dia gagal. Kau tau siapa nama anak kami?"
"Putri, kan?" Ujarku dengan air mata yang memperparah kuasan make up menjadi buruk rupa.
Belum sempat wanita itu menjawab.."Sophia!! Jangan lari2! Papa capeknya ngejarnya!"


Mataku tercengang, kuping berdengung dan badan berkeringat. Laki-laki itu menoleh ke arahku, dan tersenyum. Senyum tulus pertama yang kulihat.
"Benar Sophia,, nama anak kami Mahadewi Putri Sophia. Persis nama mu kan,,Mahadewi Sophia" 

Sabtu, 18 Oktober 2014

Si Manis jantan

Aku terlahir sebagai anak laki-laki bersama saudara kembar perempuan, dari rahim ibu pemecah batu. Terlahir di sebuah kota gersang, sedikit penduduk dan sunyi temaram di sepanjang hari. Pelosok Pulau Jawa bagian timur.
Aku tumbuh dan terdidik sebagai pejantan tangguh. Membantu ibu mengangkat tumpukan karung goni berisi batu, terkadang pasir. Saudara kembarku dicintaiNya, umur dua bulan sudah menghadap Sang Khalik. Untunglah, dia tak perlu melihat atau bahkan tangannya yang pasti halus terpaksa terkena goresan karung kasar, batu atau benda-benda yang aku pun tak suka.

Rabu, 08 Oktober 2014

Kasih Karna

Harusnya sudah kupikirkan sebelum mengantarmu pada malam suci ini. Menatap hiasan bunga segar, lampu cantik dimana-mana, makanan minuman-yang dulu pernah kau suguhkan padaku- terhidang untuk menyambut mereka dan dirinya, bukan aku. Apa yang sudah kulakukan sekian tahun bersama mu? Bertindak bodoh dan memalingkan raut wajah cinta kasihku? Mana mungkin aku meladeni perasaan yang tak seharusnya atau mungkin seharusnya atau entah bagaimana seharusnya!

Bagaimana bisa aku menghantarmu sampai sejauh ini. Memasukkan berita yang sudah kuduga dan mengirim sendiri dg tangan dan hati terkoyak. Kalau kau pernah tercakar pipi indahmu oleh kucing liar itu tak seberapa, ini adalah luka yang bagaimanapun sampai mati. Mati oleh kebodohanku sendiri.

"Terimakasih Kasih, hari ini perjalananku di mulai berkatmu."
"Kamu mengirimkanku seseorang yg seumur hidup aku tunggu".
Sudah mengering airmataku, sudah bertahun-tahun sejak kalian bertemu aku menangis. Menangis untuk apa yg aku perbuat sendiri. Menangis untuk kemurkaanku atas hati ini.
"Berjalanlah bergandengan..menataplah ke depan. Kehidupan akan sangat indah untuk kalian. Aku akan membereskan di depan".

Di depan..membereskan di depan..aku harus membereskannya. Apa yang ada di depan harus ku pastikan semua kembali normal, tidak melulu berisi tentang kebodohanku. Tidak dengan begini sampai akhir hidupku. Toh aku tak kan selamanya menjadi Kasih. Kata Bunda, Karna akan selalu menjadi yg terbaik daripada Kasih.

"Karna, terimakasih telah mencintaiku. Kembalilah pada Karna" Raditya Rano.