Viewer

Sabtu, 31 Oktober 2015

Memang rencana Tuhan, bukan?

Memang Tuhan lah yang punya rencana dan akulah yang selalu berjuang melawannya. Bukan aku saja yang telah merencanakan hal terindah tapi ada tangan lain yang tak kuasa rupanya kutolak. Semua tatapku masih tertuju pada senyummu dan semua gerakku masih melangkah kearahmu yang ternyata bergerak menjauh. 
Memang Tuhan yang ingin aku merasakan dan menemukan dengan cara yang sedikit sakit. Ya, hanya sedikit sakit jika dibanding harus terus menjalani sisa hidupku denganmu, tentu akan sedikit sakit akan berubah menjadi teramat sakit. 
Semua kukira aku telah mendapatkan segalanya hanya dengan mendapatkanmu saja, aku tak perlu lagi mengejar mimpiku, tak perlu lagi berusaha menjadi wanita sempurna karena bagimu aku bidadari. Semula kukira akan kukenakan apa yang telah kau janjikan sayang, ternyata memang Tuhan lah yang memutuskan dengan siapa aku harus memakainya. 

"If I got locked away and we lost it all day, tell me honestly would you still love me the same?If I showed you my flaws if i could not be strong,tell me honestly would you still love me the same?Would you be there to always hold me down?"


Lirik yang mengalir dari bibir seorang Adam Levine nyatanya juga mengalir dari bibirku. Berkali-kali kuputar lagu menjengkalkan itu dan berkali-kali pula lantaiku penuh dengan gumpalan tisu. Aku tidak pernah menyesali pernah jatuh cinta bahkan setiap hari denganmu, sama sekali tidak. Kau datang dengan cara yang indah dan aku menikmati semua kisah kita. Sekali saja saat malam itu, aku bertanya apakah Tuhan benar-benar mengirimmu untukku atau untuk wanita lain yang lebih tegar dariku. Ternyata pertanyaanku tak hanya datang malam itu, benar sekali saat malam itu dan berkali-kali pada setiap waktu di setiap hariku. Benarkah aku mampu menemani kehebatanmu, benarkah aku yang dipilih Tuhan dan benarkah kamu yang berdoa disetiap malam untukku. 

Beruntungnya kita adalah pasangan dengan wajah seribu topeng molek. Karakter topeng yang kita pilih sama dengan senyum cukup manis dan mata berbinar. Tunggu....tidak, kamu tidak pernah menggunakan topeng, akulah yang selalu harus menggunakannya. Apapun yang kamu lakukan pada wanita yang kau anggap bidadari ini selalu membuatmu bahagia, pun hatimu tak pernah kulihat penyesalan. Sementara aku tak pernah bisa melepas topeng bahagia yang sudah terlanjur melekat, dan jika kulepas harus kutunjukkan wajah asliku yang tak lagi bak bidadari. 

Tapi memang Tuhan yang mengatur dan memasangkan hatiku denganmu saat itu. Untuk menguji dan menguatkan aku dan kamu. Sekarang Tuhan pula yang memintaku melepaskan ribuan topeng bahagia itu dan ternyata aku masih merasa seperti bidadari. Kita mampu melepaskan apa yang telah kita ikat, kurasa memang cincin ini tak akan mempermanis jariku maupun jarimu apalagi hidup kita. Terimakasih telah membuka kemudian melepas tapi juga mempermudah kisah cinta ini, kukembalikan padaMu segala keindahan yang dulu hanya bertamu. Akan kutunggu seorang yang akan tinggal dan aku tak perlu lagi membeli topeng apapun itu. Kisah kita akan jauh lebih bersinar daripada cincin putih yang kini berakhir di tempat pengap yang kau sebut sampah.