Pernah nggak sih kalian ngerasa jadi
manusia angkuh dan kurang bersyukur. Ngerasa kenapa beberapa hal yang
terjadi sama kamu itu kurang adil, padahal kamu ngerasa udah ngeluarin
semua kemampuanmu. Berakhir pada menangis dan menyakiti pikiran sendiri,
membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Aku bahkan melupakan satu
pedoman dasar keilmuanku bahwa setiap individu itu berbeda. Beberapa
tahun terakhir aku berubah jadi manusia menyebalkan seperti ini. Semua
bermula saat memasuki pendidikan S2 ini, begini kisahku..
Tiga
tahun lalu setelah lulus S1 aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan
S2. Simple sih alasannya, aku seorang perempuan dan calon ibu, aku mau
tetap bisa bekerja dirumah dengan tetap mengurus keluargaku nanti, dan
dengan gelar psikolog nantinya akan memudahkan itu terwujud.
Ternyata
masuk ke dunia baru ini diluar bayanganku, sangat tidak mudah hahahaha.
Yah, even aku berhasil lolos ke salah satu PTN di Surabaya ini, cuma
setelah menjalaninya wow seakan aku harus berenang dengan sisa oksigen
yang menipis, yang padahal berenang aja nggak bisa hahaa. Bukan
bego-bego banget sih, cuma budaya belajar di tempat baru itu sungguh 180
derajat berbeda. Cuma alhamudillah aku dikelilingi teman-teman yang
baik banget dan ya pinter-pinter luar biasa walaupun kelakuan minus tapi
they are amazing for sure!.
Tahun
pertama kuliah, aku kayak mengulang dan memahami materi demi materi
semasa S1. Ada masa matrikulasi dimana aku gagal dan wajib ikut kelas
lagi di materi Teori Organisasi. Rada malu sih soalnya ngulangnya
barengan sama anak S1 hahahaha, but hey the show must go on kan wkwkwk.
Tahun
kedua aku mati-matian memahami arti kesabaran dan mengontrol emosi.
Mulai muncul sifat mengeluh berkepanjangan kayak kemacetan Jakarta.
Tahun kedua ini aku mulai masuk di mata kuliah Praktek Kerja Profesi
Psikologi (magang) dan ditempatkan di salah satu perusahaan BUMN. Mulai
dari sini aku nggak cuma dihamparkan ilmu pengetahuan baru tapi juga
bolak-balik disadarkan arti kesabaran yang ehhhh luar biasa baru kali
ini aku bener-bener belajar ngerasain dan juga berujung pada kalimat
"yah udahalah ya". Harus ngekost di dua tempat karena tempat magang di
luar kota, which is biaya lagi. Harus manage waktu antara
ngerjain tugas kuliah dan tugas dari perusahaan. Harus nemuin
kesepakatan antara kebutuhan akademis dan kebutuhan praktis. Nggak bisa
ngontrol orang lain pas lagi butuh banget kerjasama mereka untuk
keperluan kedua belah pihak. Nggak bisa ngontrol jadwal dosen yang emang
sudah patennya begitu. Ngeliat ada temen yang ternyata udah kelar
sementara kita masih kejar-kejaran sama waktu dan subjek yang tak pernah
menunggu. Semua berujung pada tangisan ala anak gadis yang lebih kejer
daripada kehilangan lipstick yang baru dibeli.
Kalian
pernah gak sih tiba-tiba nangis padahal gak lagi diapai-apain?.
Bukannya hiperbola sih cuma ini beneran kejadian hahahaha, beberapa kali
aku di mobil nangis sendirian sekejer-kejernya. Ngerasa cuapeeekkkkk
banget secara emosional. Sampe kost buka pintu kamar seakan gak
kenapa-kenapa, ketawa-ketiwi sama temen kost. Begitu waktunya sholat
kelar terus ditelpon mama aduh ambyar bubar jalan lagi itu ketahanan
diri, semua airmata bercucuran dari pipi tebal ini.
Ada
banyak hal yang gak bisa kamu kontrol selama PKPP nanti gaes (bagi
dedek-dedek yang mau ambil Mapro). Aku dan hampir semua temenku
mengalami kegundahan ini. Ada cerita subjek yang seharusnya udah di masa
feedback tiba-tiba meninggal. Ada yang harusnya kita udah
ditahap pengetesan tiba-tiba subjeknya dipindah tugaskan ke luar kota,
atau bahkan resign :))))))).
Pokoknya
selama masa ini aku jadi manusia kufur nikmat banget lah. Bukannya
memperbanyak ibadah malah memperbanyak keluhan, asli.
Masuk
di semester ke-5 waktunya thesis. Aku kira ini bakal lebih menarik
karena aku sudah bosan sebosan-bosannya ngerjain PKPP hahahaha. Menarik
sih cuma perjuangannya juga gak kalah beratnya sama PKPP. Kali ini perjuangannya ada di dosen dan aku. Kebetulan
aku dapat dosen yang emang sibuk banget tapi aku memang milih beliau
karena aku suka cara beliau membimbing dan berpikir, my favorite ones lah,
jadi gapapa deh sibuk-sibuk yang penting aku nyaman saat bimbingan dan
gak keder duluan huhuhu. Menunggu dosen terasa lebih melelahkan daripada
kamu nungguin pacarmu yang ga dateng-dateng karena kejebak macet, atau
kejebak di rumah mantan hahaha. Mulai dari jam 07.30 - 17.00 pun aku dan
beberapa rekan sejawat lainnya pernah ngalamin nungguin dosen selama
itu, tak beranjak dari depan ruangannya (kecuali sholat dan brunch).
Tentu tidak serta merta jam lima sore itu jadi bimbingan lho, ada
kalanya dosen tiba-tiba ada urusan mendadak dan berujung pada ntah
kapan. Mereka emang nggak cuma ngurusin kita sebiji sih hahaha.
Sepulang dari setiap penantian yang tak bertemu itu selalu ada rasa cekit-cekit di
hati. Lebih sering menatap nanar pada tumpukan laporan, kuesioner, dan
tembok. Rasanya pengen banget mukulin tembok. Mungkin ini cuma aku sih
yang ngerasa seemosional ini. Dari aku kecil kedua orangtuaku sama
sekali nggak pernah nargetin aku untuk jadi juara apapun, malah mereka
ngasih fasilitas-fasilitas semampu yang mereka bisa. Kondisi ini yang
ngebentuk aku tumbuh jadi anak yang rada penuh guilty pleasure gitu
kalo nggak bisa ngasih yang terbaik buat mereka. Pernah aku cerita ke
mereka soal GPA ku yang ga bagus-bagus amat dan mereka sama sekali nggak
marah dan aku justru mengiba untuk dimarahi saja -_____-". Setiap
keberhasilan yang aku raih aku pikir itu buat mereka, dan setiap
kegagalan yang aku raih aku sedihnya karena aku gak bisa ngebuat mereka
bangga (walaupun mereka tetep bangga). Aku kuliah Psikologi tapi aku
nggak bisa ngontrol diri sendiri huhuhu, mindset yang salah dan
nyusahin diri sendiri. Hasilnya aku banyakan nangisnya daripada
bersyukurnya. Aku berfokus pada apa yang belom aku punya, pada apa yang
aku pengen, dan lupa kalau selama ini yang udah terjadi dan terlewati
itu juga anugrah dari Allah SWT. Aku terkesan mengabaikan semua
kebaikan-Nya, mengabaikan semua kesempatan baik yang udah aku terima dan
aku jalani sampai saat ini.
Pada
akhirnya alhamdulillah semua terlewati, hampir terlewati. Sepuluh
ujian/sidang selama S2 sudah terlewati dengan haru. Ternyata lagi-lagi
kesabaran diuji dengan salah satu dosen sampai detik ini belom bisa
memberikan sign untuk hasil revisi sidang dikarenakan beliau
sedang menjalani operasi. Aku sedih karena beliau juga pasti pusing dan
lelah ngurus segala banyak hal, aku juga bingung what should i or we do. Tapi soal ini insha allah ada jalan keluarnya. Cuma aku jadi belajar sesuatu atas semua yang terjadi.
Aku
ngelihat lagi setiap hal yang udah terjadi dulu bahkan sampai sekarang,
pesan apa sih yang coba disampaikan Tuhan buat aku pribadi. Aku
ngelihat dan beberapa kali membandingkan antara aku dan temen yang
jalannya semulus kulit mbak-mbak SK II. Kok aku begini ya?. Apa ada
pesan yang aku lewatin ya?. Apa ada pelajaran yang aku abaikan ya?
Aku Gak Sepenuh Hati Bersyukur.
Memang
setiap doa aku mengucapkan terima kasih pada Yang Maha Kuasa. Memang
aku mengucapkan alhamdulillah ketika aku mendapatkan sesuatu. Ketika aku
mendapatkan kesusahan?aku nggak menganggap itu juga pemberian dari
Allah SWT. Aku lupa kalo aku diberi kesempatan diterima di PTN ini juga
karenaNya, aku lupa kalo sampai saat ini aku diberi kesempatan
menyelesaikan S2 ku juga karenaNya. Setiap saat kedua orangtuaku berdoa
tapi aku sibuk mengeluh dan gak benar-benar mensyukuri apa yang udah
ditanganku, aku terlalu fokus pada yang tidak terjadi dan yang ingin
terjadi. Aku sadar semenjak pertengahan semester kemaren aku cuma
dihadapkan pada pilihan pasrah sama Allah, cuma itu. Aku kayak ngerasa
gak punya cara lain selain itu. Nggak mudah buat tipe pribadi yang kayak
aku gini buat menerima kegagalan secepat yang lain. Ada orang yang
mudah untuk berdamai dengan dirinya. Nah, aku sadar aku bukan yang
begitu dan aku nggak suka diriku yang begitu. I'm overthinking?yes. Tapi
bukan dalam hal pekerjaan atau tugas sih, lebih ke apa yang sudah aku
lewati dan yang akan aku lewati. Aku berfokus untuk menyenangkan orang
lain. Tapi dengan begini aku jadi sadar, dari awal masuk S2 Allah itu
ngasih pesan dan pelajaran buat aku jadi pribadi yang lebih sadar, which is ini
bukan aku banget sejak jaman dahulu kala hahahahaha. Allah juga ngasih
kesempatan aku buat belajar lagi ngedeketin diri dan merayuNya lebih
dalam, yang dimana juga dulu ini kacau balau. Allah nyuruh aku
memasrahkan segala apa yang sudah aku buat kepadaNya, biarkan Allah yang
melihat, menilai, dan memutuskan yang terbaik bagiku. Aku baru
bener-bener paham sekarang apa yang terbaik buat kita belum tentu
terbaik menurutNya. Allah nyuruh aku buat memperbaiki kualitas diriku
secara emosional, batiniah, karena aku tau aku kurang disitu. Melalui
segala jungkir baliknya kuliah ini yang gak pernah terbayangkan
sebelumnya hahahha.
Setiap
orang menghadapi masalah dan mengatasinya dengan cara berbeda, dan
Tuhan pasti memberi pesan berbeda-beda pada umatnya. Setiap ujian pasti
ada pesan yang baik, aku sekarang percaya banget ini. Tuhan berusaha
menegur dengan ujian itu agar kita cepet sadarnya, mungkin semakin keras
ujiannya biar kita semakin denger pesannya.Ibarat kalo kita bertamu mau
nganterin sesuatu ketika kita mengetuk pintunya pelan, si empunya rumah
ga denger dong. Tapi, kalo kita kencengin dikit, maka pintu dibuka dan
pesan/hantaran yang kita bawa akan sampai.
Teruntuk
diriku yang mungkin akan membaca ini nanti, ingatlah semua
perjuanganmu, orang-orang yang mendukungmu, ingatlah semua ujianmu
karena Allah SWT ingin memberimu pesan kebaikan.
Segera temukan.