Viewer

Jumat, 19 Mei 2017

Waiting Room

Waiting room in an airport
Beberapa raut wajah yang sedih, menatap layar handphone, mungkin sedang melanjutkan pamit perpisahan dengan keluarga atau pasangan..
Beberapa nampak murung, menerawang, mengecek jadwal keberangkatan berkali-kali seakan-akan tidak ingin beranjak pergi, atau bahkan ingin segera enyah.
Beberapa sibuk menenangkan suara anaknya di seberang pulau sembari meyakinkan bahwa ia akan segera tiba beberapa jam kemudian..
Beberapa yang lain justru terlihat bahagia, ingin segera keluar dari ruang tunggu dan tak sabar ingin segera tiba di muara yang di rindu.

Ruang tunggu seperti jembatan untuk segera bertemu atau justru ingin segera meninggalkan..
Jembatan yang menyimpan magnet dan menunggu apakah kita setelah meninggalkannya, akan bisa kembali atau tidak.

Kamis, 11 Mei 2017

Pesan Lama

Pernah nggak sih kalian ngerasa jadi manusia angkuh dan kurang bersyukur. Ngerasa kenapa beberapa hal yang terjadi sama kamu itu kurang adil, padahal kamu ngerasa udah ngeluarin semua kemampuanmu. Berakhir pada menangis dan menyakiti pikiran sendiri, membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Aku bahkan melupakan satu pedoman dasar keilmuanku bahwa setiap individu itu berbeda. Beberapa tahun terakhir aku berubah jadi manusia menyebalkan seperti ini. Semua bermula saat memasuki pendidikan S2 ini, begini kisahku..

Tiga tahun lalu setelah lulus S1 aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2. Simple sih alasannya, aku seorang perempuan dan calon ibu, aku mau tetap bisa bekerja dirumah dengan tetap mengurus keluargaku nanti, dan dengan gelar psikolog nantinya akan memudahkan itu terwujud. 
Ternyata masuk ke dunia baru ini diluar bayanganku, sangat tidak mudah hahahaha. Yah, even aku berhasil lolos ke salah satu PTN di Surabaya ini, cuma setelah menjalaninya wow seakan aku harus berenang dengan sisa oksigen yang menipis, yang padahal berenang aja nggak bisa hahaa.  Bukan bego-bego banget sih, cuma budaya belajar di tempat baru itu sungguh 180 derajat berbeda. Cuma alhamudillah aku dikelilingi teman-teman yang baik banget dan ya pinter-pinter luar biasa walaupun kelakuan minus tapi they are amazing for sure!.

Tahun pertama kuliah, aku kayak mengulang dan memahami materi demi materi semasa S1. Ada masa matrikulasi dimana aku gagal dan wajib ikut kelas lagi di materi Teori Organisasi. Rada malu sih soalnya ngulangnya barengan sama anak S1 hahahaha, but hey the show must go on kan wkwkwk. 

Tahun kedua aku mati-matian memahami arti kesabaran dan mengontrol emosi. Mulai muncul sifat mengeluh berkepanjangan kayak kemacetan Jakarta. Tahun kedua ini aku mulai masuk di mata kuliah Praktek Kerja Profesi Psikologi (magang) dan ditempatkan di salah satu perusahaan BUMN. Mulai dari sini aku nggak cuma dihamparkan ilmu pengetahuan baru tapi juga bolak-balik disadarkan arti kesabaran yang ehhhh luar biasa baru kali ini aku bener-bener belajar ngerasain dan juga berujung pada kalimat "yah udahalah ya". Harus ngekost di dua tempat karena tempat magang di luar kota, which is biaya lagi. Harus manage waktu antara ngerjain tugas kuliah dan tugas dari perusahaan. Harus nemuin kesepakatan antara kebutuhan akademis dan kebutuhan praktis. Nggak bisa ngontrol orang lain pas lagi butuh banget kerjasama mereka untuk keperluan kedua belah pihak. Nggak bisa ngontrol jadwal dosen yang emang sudah patennya begitu. Ngeliat ada temen yang ternyata udah kelar sementara kita masih kejar-kejaran sama waktu dan subjek yang tak pernah menunggu. Semua berujung pada tangisan ala anak gadis yang lebih kejer daripada kehilangan lipstick yang baru dibeli.
Kalian pernah gak sih tiba-tiba nangis padahal gak lagi diapai-apain?. Bukannya hiperbola sih cuma ini beneran kejadian hahahaha, beberapa kali aku di mobil nangis sendirian sekejer-kejernya. Ngerasa cuapeeekkkkk banget secara emosional. Sampe kost buka pintu kamar seakan gak kenapa-kenapa, ketawa-ketiwi sama temen kost. Begitu waktunya sholat kelar terus ditelpon mama aduh ambyar bubar jalan lagi itu ketahanan diri, semua airmata bercucuran dari pipi tebal ini. 
Ada banyak hal yang gak bisa kamu kontrol selama PKPP nanti gaes (bagi dedek-dedek yang mau ambil Mapro). Aku dan hampir semua temenku mengalami kegundahan ini. Ada cerita subjek yang seharusnya udah di masa feedback tiba-tiba meninggal. Ada yang harusnya kita udah ditahap pengetesan tiba-tiba subjeknya dipindah tugaskan ke luar kota, atau bahkan resign :))))))).
Pokoknya selama masa ini aku jadi manusia kufur nikmat banget lah. Bukannya memperbanyak ibadah malah memperbanyak keluhan, asli. 

Masuk di semester ke-5 waktunya thesis. Aku kira ini bakal lebih menarik karena aku sudah bosan sebosan-bosannya ngerjain PKPP hahahaha. Menarik sih cuma perjuangannya juga gak kalah beratnya sama PKPP. Kali ini perjuangannya ada di dosen dan aku. Kebetulan aku dapat dosen yang emang sibuk banget tapi aku memang milih beliau karena aku suka cara beliau membimbing dan berpikir, my favorite ones lah, jadi gapapa deh sibuk-sibuk yang penting aku nyaman saat bimbingan dan gak keder duluan huhuhu. Menunggu dosen terasa lebih melelahkan daripada kamu nungguin pacarmu yang ga dateng-dateng karena kejebak macet, atau kejebak di rumah mantan hahaha. Mulai dari jam 07.30 - 17.00 pun aku dan beberapa rekan sejawat lainnya pernah ngalamin nungguin dosen selama itu, tak beranjak dari depan ruangannya (kecuali sholat dan brunch). Tentu tidak serta merta jam lima sore itu jadi bimbingan lho, ada kalanya dosen tiba-tiba ada urusan mendadak dan berujung pada ntah kapan. Mereka emang nggak cuma ngurusin kita sebiji sih hahaha. 

Sepulang dari setiap penantian yang tak bertemu itu selalu ada rasa cekit-cekit di hati. Lebih sering menatap nanar pada tumpukan laporan, kuesioner, dan tembok. Rasanya pengen banget mukulin tembok. Mungkin ini cuma aku sih yang ngerasa seemosional ini. Dari aku kecil kedua orangtuaku sama sekali nggak pernah nargetin aku untuk jadi juara apapun, malah mereka ngasih fasilitas-fasilitas semampu yang mereka bisa. Kondisi ini yang ngebentuk aku tumbuh jadi anak yang rada penuh guilty pleasure gitu kalo nggak bisa ngasih yang terbaik buat mereka. Pernah aku cerita ke mereka soal GPA ku yang ga bagus-bagus amat dan mereka sama sekali nggak marah dan aku justru mengiba untuk dimarahi saja -_____-". Setiap keberhasilan yang aku raih aku pikir itu buat mereka, dan setiap kegagalan yang aku raih aku sedihnya karena aku gak bisa ngebuat mereka bangga (walaupun mereka tetep bangga). Aku kuliah Psikologi tapi aku nggak bisa ngontrol diri sendiri huhuhu, mindset yang salah dan nyusahin diri sendiri. Hasilnya aku banyakan nangisnya daripada bersyukurnya. Aku berfokus pada apa yang belom aku punya, pada apa yang aku pengen, dan lupa kalau selama ini yang udah terjadi dan terlewati itu juga anugrah dari Allah SWT. Aku terkesan mengabaikan semua kebaikan-Nya, mengabaikan semua kesempatan baik yang udah aku terima dan aku jalani sampai saat ini. 

Pada akhirnya alhamdulillah semua terlewati, hampir terlewati. Sepuluh ujian/sidang selama S2 sudah terlewati dengan haru. Ternyata lagi-lagi kesabaran diuji dengan salah satu dosen sampai detik ini belom bisa memberikan sign untuk hasil revisi sidang dikarenakan beliau sedang menjalani operasi. Aku sedih karena beliau juga pasti pusing dan lelah ngurus segala banyak hal, aku juga bingung what should i or we do. Tapi soal ini insha allah ada jalan keluarnya. Cuma aku jadi belajar sesuatu atas semua yang terjadi.
Aku ngelihat lagi setiap hal yang udah terjadi dulu bahkan sampai sekarang, pesan apa sih yang coba disampaikan Tuhan buat aku pribadi. Aku ngelihat dan beberapa kali membandingkan antara aku dan temen yang jalannya semulus kulit mbak-mbak SK II. Kok aku begini ya?. Apa ada pesan yang aku lewatin ya?. Apa ada pelajaran yang aku abaikan ya?
Aku Gak Sepenuh Hati Bersyukur.
Memang setiap doa aku mengucapkan terima kasih pada Yang Maha Kuasa. Memang aku mengucapkan alhamdulillah ketika aku mendapatkan sesuatu. Ketika aku mendapatkan kesusahan?aku nggak menganggap itu juga pemberian dari Allah SWT. Aku lupa kalo aku diberi kesempatan diterima di PTN ini juga karenaNya, aku lupa kalo sampai saat ini aku diberi kesempatan menyelesaikan S2 ku juga karenaNya. Setiap saat kedua orangtuaku berdoa tapi aku sibuk mengeluh dan gak benar-benar mensyukuri apa yang udah ditanganku, aku terlalu fokus pada yang tidak terjadi dan yang ingin terjadi. Aku sadar semenjak pertengahan semester kemaren aku cuma dihadapkan pada pilihan pasrah sama Allah, cuma itu. Aku kayak ngerasa gak punya cara lain selain itu. Nggak mudah buat tipe pribadi yang kayak aku gini buat menerima kegagalan secepat yang lain. Ada orang yang mudah untuk berdamai dengan dirinya. Nah, aku sadar aku bukan yang begitu dan aku nggak suka diriku yang begitu. I'm overthinking?yes. Tapi bukan dalam hal pekerjaan atau tugas sih, lebih ke apa yang sudah aku lewati dan yang akan aku lewati. Aku berfokus untuk menyenangkan orang lain. Tapi dengan begini aku jadi sadar, dari awal masuk S2 Allah itu ngasih pesan dan pelajaran buat aku jadi pribadi yang lebih sadar, which is ini bukan aku banget sejak jaman dahulu kala hahahahaha. Allah juga ngasih kesempatan aku buat belajar lagi ngedeketin diri dan merayuNya lebih dalam, yang dimana juga dulu ini kacau balau. Allah nyuruh aku memasrahkan segala apa yang sudah aku buat kepadaNya, biarkan Allah yang melihat, menilai, dan memutuskan yang terbaik bagiku. Aku baru bener-bener paham sekarang apa yang terbaik buat kita belum tentu terbaik menurutNya. Allah nyuruh aku buat memperbaiki kualitas diriku secara emosional, batiniah, karena aku tau aku kurang disitu. Melalui segala jungkir baliknya kuliah ini yang gak pernah terbayangkan sebelumnya hahahha. 

Setiap orang menghadapi masalah dan mengatasinya dengan cara berbeda, dan Tuhan pasti memberi pesan berbeda-beda pada umatnya. Setiap ujian pasti ada pesan yang baik, aku sekarang percaya banget ini. Tuhan berusaha menegur dengan ujian itu agar kita cepet sadarnya, mungkin semakin keras ujiannya biar kita semakin denger pesannya.Ibarat kalo kita bertamu mau nganterin sesuatu ketika kita mengetuk pintunya pelan, si empunya rumah ga denger dong. Tapi, kalo kita kencengin dikit, maka pintu dibuka dan pesan/hantaran yang kita bawa akan sampai. 

Teruntuk diriku yang mungkin akan membaca ini nanti, ingatlah semua perjuanganmu, orang-orang yang mendukungmu, ingatlah semua ujianmu karena Allah SWT ingin memberimu pesan kebaikan.
Segera temukan.