Tanahnya lebih coklat dari kulitku. Ku genggam tapi jatuh luruh perlahan. Beberapa menit yang lalu aku masih ingin kembali turun ke bawah. Beberapa jam yang lalu aku bahkan tak ingin mendaki lagi dan lagi. Rok hijau zamrud yang kubeli semalam kini sedikit kecoklatan bertabrakan dengan pasir ini. Dari atas sini sungguh semua terlihat jelas, kau di bawah sana yang selalu berusaha menjatuhkanku. Dari atas sini kau terlihat kecil, hingga tak dapat menarik lenganku, menjambbak mahkotaku lalu membuangnya.
Viewer
Sabtu, 31 Januari 2015
Kamis, 22 Januari 2015
Kemala, Duri-duri dalam bangunan.
"Bu, masih jam empat subuh..Mala masih ngantuk."
Mala kecil menatap roda sepeda pancal butut, matanya beralih ke keranjang yang sudah penuh dengan kardus makanan isi ayam goreng. Diliriknya selimut yang sudah ditarik oleh ibunya dan dilipat rapih. Ah tanda harus bangun seutuhnya. Mala masih duduk di TK A, tapi terpaksa jarang masuk sekolah karena harus ikut Ibunya keliling pasar menjajakan ayam goreng.
"Kalo siang, pelanggannya ilang. Ayo cuci muka, temeni ibu ke pasar. Abis gitu harus bikin kue." Si Ibu masih sibuk menghitung tumpukan kardus makanan di keranjang sepedanya.
Mala beringsut ke tepi ranjang, berjalan ke kamar mandi menatap wajahnya di cermin. Bulat dan berambut ikal cepak.
Minggu, 18 Januari 2015
Saya..
"Kamu ini lho, goblok nih..."
"Mau ngapain kok ambil PMDK di universitas swasta? mau jadi apa?aneh-aneh aja"
"Kok ngambil psikologi? Mas ini lho disini...mending ini...mau jadi apa,,,"
"Eh shinta udah punya mobil loh,,
"Biarin aja biar punya mobil tetep aja ndeso ga bisa dandan, ga gaul..
"Oh psikologi? em,,mas mu lho bisa masuk di sini.....sekarang udah kerja di sini..bla bla bla..
"Terus kalo papamu kerja swasta gimana nanti kuliahmu..bla bla bla....
Rentetan kalimat di atas diucapkan oleh sahabat masa SMP, orang yang terhormat, tetangga dan saudara.
Jauh sebelum itu, aku juga pernah mendengar walau telingaku baru berusia lima tahun. Kedua orangtuaku yang berusaha menutup rapat-rapat telingaku dari remehan kotor mereka. Mereka menutup telingaku, dan berusaha keras membuka mataku lebar-lebar apa yang bisa aku tunjukkan pada mereka semua.
Papaku selalu bilang, biarlah orang sibuk mengomentari kita sementara kita sibuk menjadi orang hebat hari demi hari. Sementara mereka menumpuk dosa, kita menumpuk pembuktian.
Aku hanya ingin mengutarakan ini dear orang yang tampaknya baik..
Aku memang bukan tipe perempuan yang suka berdandan ala cewek-cewek remaja kekinian. Tidak seheboh seorang sahabat yang pernah dulu dengan manisnya mencibirku.
Aku memang bodoh saat itu, tak pernah setega itu membalas umpatanmu hai teman..tapi akan lebih bodoh lagi saat aku menjadi dirimu yang sekarang :)
Aku memang tidak memiliki orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri, tetapi alhamdulillah keluargaku tak pernah mengusikmu wahai orang-orang yang sibuk mencibir..
Saya memang memilih perguruan tinggi swasta karena TIDAK semua PTN itu sempurna bapak..alhamdulillah saya sedikit lebih cerdas memilih dan dalam memiliki sudut pandang. terimakasih.
Saya memang memilih psikologi, karena tau banyak orang sedang sakit disekitar saya siapa tau kalian butuhkan demi jiwa yang lebih tentram nantinya, amin.
Semua yang pernah mengolok, mencibir, meremehkan saya..terimakasih berkat bantuan kalian saya bisa beberapa langkah didepan. Berkat kalian saya bisa membuka mata bagaimana caranya berlari mengejar mimpi saya. Berkat kalian juga saya tahu caranya bertahan dari istilah "dunia itu kejam" sedari kecil.
Menjadi kuat dan berhasil adalah pilihan dan bentukan dari apa yang telah kita terima.
Langganan:
Postingan (Atom)