Viewer

Sabtu, 31 Januari 2015

Rambut Panjang Coklat

Tanahnya lebih coklat dari kulitku. Ku genggam tapi jatuh luruh perlahan. Beberapa menit yang lalu aku masih ingin kembali turun ke bawah. Beberapa jam yang lalu aku bahkan tak ingin mendaki lagi dan lagi. Rok hijau zamrud yang kubeli semalam kini sedikit kecoklatan bertabrakan dengan pasir ini. Dari atas sini sungguh semua terlihat jelas, kau di bawah sana yang selalu berusaha menjatuhkanku. Dari atas sini kau terlihat kecil, hingga tak dapat menarik lenganku, menjambbak mahkotaku lalu membuangnya. 
 
Anginnya hangat mungkin sedikit berdebu, tak apa asal aku jauh dari kau, kalian semua. Aku ingat kata ibuku dulu, seorang anak tak akan menjadi baik bila mengajarinya dengan buruk. Seseorang tak kan mengerti yang benar dan yang salah bila hanya membenturkan kepalanya ke tembok jeruji tanpa memberinya contoh yang benar. Siapalah kalian semua yang dengan mudahnya menganggapku kotoran ayam. Aku pun ciptaanNya yang tentu disayang.

Tebing yang tinggi, tapi cukup rendah untuk kaki-kaki yang terbiasa mendaki. Aku pernah menjadi lelaki yang kau sebut dengan lelaki sesungguhnya. Aku pernah menyerahkan diriku pada kodrat yang semestinya. Semua terhenti sejak kutahu menjadi wanita lebih mudah. Wajahku tak rupawan, tak menawan tak seperti kalian. Wanita tak rupawan sekalipun akan tetap mudah diterima dalam kelompok manapun saat itu. Aku melihat betapa mudahnya menjadi wanita yang disukai banyak orang. Memoles diri sedikit saja akan datang banyak lebah, entah untuk menghisap atau sekedar singgah. Pengakuan adalah cita-cita pertama dari bocah lima belas tahun saat itu. 

Rambut coklat panjang adalah pilihan pertamaku. Kunanti satu saja lebah yang siapa tahu akan hinggap. Impianku nyata, belasan lebah perlahan datang. Beberapa detik kemudian ternyata hanya halusinasi seorang bocah. Lebah berubah menjadi singa si raja hutan, sementara aku dengan ajaibnya berubah menjadi kelinci manis. Diterkamnya, kuku-kuku panjang mengoyak helai demi helai kaos tipis merah mudaku. Merampas rambut coklat panjang, dengan sekali tepukkan seperti pemain sulap ternama rambut coklat panjang sudah berbaur dengan api. Ibu, apa ini cara yang baik seperti yang pernah ku dengar dulu. Apa mereka tidak mendapat pesan seperti yang kau ucapkan?.

Ku tak berteriak, hening dalam koyakan. Ku biarkan kalian beraksi lalu pergi. Kau berpaling dan berteriak dari ujung jalan "Lak-laki tidak pakai wig Arya!! Pulang dan jadi yang benar!". Kau harusnya juga mendengar kata ibu waktu itu. Kau pun terlahir dari kasih sayang rahim ibuku. 

Sekarang, aku menatapmu dari tebing ini. Kau besar dibawah sana tapi sungguh tak berarti apa-apa. Aku punya mahkota baru, biru tua abang, biru tua. Tak akan kau rampas lagi. Akan kulakukan sendiri tanpa rasa sakit berlebih, dari atas sini kulepaskan apa yang harus kulepas. Bukan dengan cara singa si raja hutan. Rok hijau zamrud juga perlahan kutanggalkan berganti celana hitam di dalamnya. 

"Lepaskan saat kau siap Arya, di bawah sangat luas dan curam. Cukup untuk mengubur semua ini. Kembalilah ke daratan." Seseorang berhati seperti ibu berdiri sejajar denganku. Kami beradu pandang kemudian tersenyum menatap luasnya langit.
"Aku hanya ingin seseorang yang lembut hatinya."
"Maka esok kan kau dapati sepenuhnya"
"Tak kan berubah?"
"Halalkan aku untukmu, maka semua akan baik-baik saja." 
Kuhempaskan rambut biru tua, rok hijau zamrud ke curam yang tak ingin lagi kulihat. Cukup menjadi bagian yang juga tak ingin ku cela. Ucapku hanya syukur atas wanita yang berdiri disampingku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar