"Bu, masih jam empat subuh..Mala masih ngantuk."
Mala kecil menatap roda sepeda pancal butut, matanya beralih ke keranjang yang sudah penuh dengan kardus makanan isi ayam goreng. Diliriknya selimut yang sudah ditarik oleh ibunya dan dilipat rapih. Ah tanda harus bangun seutuhnya. Mala masih duduk di TK A, tapi terpaksa jarang masuk sekolah karena harus ikut Ibunya keliling pasar menjajakan ayam goreng.
"Kalo siang, pelanggannya ilang. Ayo cuci muka, temeni ibu ke pasar. Abis gitu harus bikin kue." Si Ibu masih sibuk menghitung tumpukan kardus makanan di keranjang sepedanya.
Mala beringsut ke tepi ranjang, berjalan ke kamar mandi menatap wajahnya di cermin. Bulat dan berambut ikal cepak.
"Bu, sudah. Ayok." Mala menepuki bedak bayi di pipi dan dahinya saja, khas anak kecil sepanjang masa.
"Jangan kayak badut gini La, bedaknya." Ibu Mala mengusap dan meratakan bedak di muka anaknya itu.
Gerakan kaki Ibu Mala diiringi irama suara kokok ayam di sepanjang jalan. Udara masih sangat segar tapi juga dingin untuk usia anak sekecil Mala. Jaket kuning lusuh bergambar pikachu adalah satu-satunya jaket yang dimilikinya. Sedikit kekecilan untuk badan semontok Mala. Mala tidak terlahir dari keluarga miskin, tidak sengsara dari lahir. Tapi Tuhan sedang menguji Mala kecil dan kedua orangtuanya untuk mencicipi sedikit rasanya perih. Mungkin Tuhan ingin mereka sekuat sengatan matahari dan setegar karang.
Matahari saja masih malas mengeluarkan sinarnya di Kota Bogor.Jalanan hanya dipenuhi para pedagang yang mulai menata dagangan mereka, para ibu-ibu rumah tangga yang sibuk memilih sayur segar. Pembantu-pembantu yang juga sudah harus bangun pagi supaya bisa menyuguhkan hidangan tepat waktu di meja makan sang majikan. Tidak ada anak kecil di dalam pasar yang ikut berjualan. Tidak ada. Kalaupun ada, mereka adalah anak pedagang yang masih tidur pulas dengan selimut sarung.
Memasuki pasar di stand makanan langganan Ibu, mulai aroma makanan menari-menari mengajak perut siapa saja ikut berdendang. Kepulan asap dari panci berisi soto ayam persis menerpa wajah Mala. Mala tertawa terbahak-bahak dan mencolek pinggul ibunya, "Bu,,bu,,anget bu..enak hahahah". Ibu Mala hanya tersenyum dan mengusap kepala Mala.
Rute mereka berakhir di sebuah warung makanan yang cukup besar di dalam pasar itu. Mereka menaruh kardus-kardus ayam goreng di warung itu. Mala kembali disuguhkan oleh warna-warni jajanan pasar di warung itu beserta rentetan lauk pauk dan telur ceplok kesukaannya. Matanya bergantian memutari arak-arakan makanan yang sudah siap saji itu. Betapa sayangnya makanan sebanyak itu kalau tidak habis, pikir Mala yang memang jarang makan dengan porsi banyak.
"Abis ini mandi, terus makan. Habis itu Ibu anter kamu ke rumah mbah." Ibu Mala seakan tahu kilatan mata anaknya yang sudah kelaparan di pagi buta itu.
"Ke rumah mbah? Mau bu mauu,nanti dibelikan susu pasti." Mala kegirangan membayangkan susu dingin rasa coklat kesukaannya.
Kehidupan Mala bagai putri saat berada di rumah si mbah. Begitu pula ibu dan ayah Mala. Makan tepat waktu, bangun pagi masih bisa menonton kartun, minum susu dingin rasa coklat setiap siang hari. Ibu Mala hanya akan mengurusnya saja tanpa sibuk berjualan ke pasar. Mereka bertiga akan menunggu Ayah pulang kerja dan dengan genggaman satu kantong plastik berisi pisang goreng dan martabak.
Kehidupan Mala bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan setiap waktu. Tiga hari menjadi bak seorang putri, empat hari menjadi upik abu. Tergantung dimana ia tinggal. Tempat yang sekarang ia tinggali bagaikan taman yang gersang, panas dan kotor. Dikelilingi orang-orang yang sangat dekat dengannya namun anehnya semua memakai topeng. Sungguh topeng yang sangat menyeramkan. Tidak ada unsur cantik dalam topeng-topeng itu. Topeng yang sangat jahat pikir Mala saat pertama kali menginjakkan kaki dirumah itu. Tidak, itu bukan rumah, itu bangunan tanpa oksigen tanpa kasih sayang, hanya Ia dan Ibunya saja yang menjadi "manusia". Setiap jengkal kaki kecilnya melangkah setiap jengkal itu pula matanya segera sayu. Siapa gerangan "mereka" yang dekat dengannya tapi tampak acuh, yang sungguh sangat dekat dengannya tapi tampak asing. Mala menyebut mereka dengan "duri".
"Aku mau makan." Mala berucap pada duri satu yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Ada banyak duri dalam bangunan itu.
"Kamu mau?" Ucap duri satu yang usianya tak jauh beda dengan Mala. Duri yang ini tidak terlalu berbahaya.
"Mau, lapar."
"Hee, ndak ndak. Tunggu sampai dia nggak mau baru kamu makan. Atau dibagi dua aja." Suara duri dua tiba-tiba menghampiri mereka.
"Bagi dua juga gakpapa kok." Duri satu membagi makanannya pada Mala. Mala kembali sayu tapi apa daya perut sudah sangat lapar. Ibunya masih sibuk di belakang mencuci semua pakaian para duri. Makanan mereka berdua habis. Sementara duri satu berlari ke dapur karena duri dua memanggilnya.
Mala ikut berlari ke dapur dengan harapan mendapat sebotol minuman dingin seperti yang biasa duri satu dapatkan setiap selesai makan.
"Ini, roti. Makan disini saja, diam-diam. Jangan dibawa keluar nanti Mala minta." Duri satu merobek roti kupas berisi selai coklat dan menaruhnya pada genggaman tangan duri satu.
Mata gadis kecil itu tak hanya sayu, tapi juga basah. Bukan karena ia masih lapar, tapi pada kata-kata yang melayang tertuju padanya.
"Aku gak suka coklat. Aku tidak akan makan coklat. Aku tidak akan menyembunyikan makananku." Mala berlari ke kamar dan membuang permen-permen coklat yang diberi si mbah beberapa hari yang lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar