Viewer

Sabtu, 02 Desember 2017

Jaman Now

Libur lumayan panjang nih (tiga hari adalah panjang bagi kaum-kaum pengendus rehat dari rutinitas kantor). Mati gaya. Bingung mau ngapain, dan dua pelarian adalah kalo nggak ngegambar ya nulis. Terus bingung, mau nulis apa ya. Muncullah ide untuk melempar kebingungan di instagram berharap ada yang sukarela ngasih masukan. Ternyata netijen ada yang berbaik hati ngasih saran nulis tentang cinta-cintaan hm.. penulisnya aja bingung sama kisah cintanya hendak bagaimana bahahahak. Lalu muncullah saran dari temen kantor, "nulis aja tentang kids jaman now dari sudut pandang psikologi". Ide yang menarik walaupun sesungguhnya kawan, shinta dewi bukanlah psikolog perkembangan dan anak, melainkan psikolog bagi kaum kapitalis hahaha. Tapi menarik juga sih sama fenomena kids jaman now yang ternyata merata ya ga cuma di satu dua kota aja.

Sebenernya kids jaman now kalo dipikir-pikir pasti ada di setiap jaman. Mungkin dulu saat kita di seumuran mereka, kita dianggap "kids jaman now" juga sama orang-orang yang lebih tua atau dewasa. Pada saat aku SMA aku ngerasa udah dewasa dan mungkin juga berlebihan dalam nanggepin sesuatu yang ternyata saat aku kuliah aku ngeliat anak SMA sekarang lebay juga. Nah, aku ngerasaian di dua posisi jadi pelaku kids jaman now (KJN) dan pelaku yang ngatain kids jaman now hahaha. Cuma yang bikin beda adalah kadar perilaku sebagai KJN yang akan terus berubah menurutku, dari tahun ke tahun. Bisa beda karena pengaruh lingkungan, karena pengaruh jenis pola asuh mereka di keluarga, atau pengaruh media sosial.

Aku tertarik bahas ini dari psikososial teori dari Erikson. Banyak celetukan tentang kenapa sih anak-anak jaman sekarang kok tingkahnya aneh-aneh, pacarannya udah kayak sinetron-sinetron dih bikin malu, atau komentar tentang penampilan mereka yang banyak terkesan lebih dewasa daripada umurnya, suka bikin vlog sok-sokan jadi vlogger endorse sana sini padahal yang katanya di endorse itu adalah squishy bekas dia buat mainan :)), dan banyak lagi kelakukan "ajaib" para KJN ini. 

Jadi gini, kalo menurut teori perkembangan psikososialnya Erikson kita itu mengalami delapan tahapan, coba mari kita pahami secara singkat nyaw:

1. Trust vs Mistrus (Percaya & Tidak Percaya; 0 - 18 Bulan)
    Anak mulai memahami rasa ketergantungan nih, pelajaran pertama bagi mereka terhadap lingkungannya, rasa percaya atau tidak percaya pada orang asing di sekitarnya. Kalo kebutuhannya (baik kasih sayang, kedekatan maupun kebutuhan basic seperti makan) terpenuhi dari orang terdekat mereka (misal ibu atau pengasuh), maka anak akan merasa aman dan percaya. Tapi, kalo tidak terpenuhi, maka anak bisa tumbuh jadi orang yang selalu merasa tidak aman susah percaya sama orang lain, selalu skeptis. 

2. Otonomi vs Malu & Ragu-Ragu (18 bulan - 3 tahun)
    Anak mulai belajar melakukan beberapa hal secara mandiri, misalnya makan sendiri atau berjalan. Tahap ini orangtua belajar untuk memberikan kepercayaan pada anak agar mengeskplorasi sendiri dengan bimbingan mereka tentunya. Nah, sebaliknya kalo terlalu membatasi dan keras pada anak, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang pemalu dan penuh keragu-raguan, kurang mandiri dan lemah. Yaa bayangin coba, dia ditahan untuk mengeksplor sesuatu dari kecil, gedenya bisa jadi atutttt nyoba hal baru. 

3. Initiative vs Guilt ( 3 - 6 tahun)
    Anak prasekolah udah mulai mematangkan kemampuan motorik, maupun bahasa. Anak mulai mengeksplor lingkungannya dan muncul inisiatif untuk melakukan tindakan tertentu.Nah, kalo orang tua selalu ngaish hukuman atas inisiatif anak, akibatnya si anak akan selalu ngerasa bersalah atas dorongan alaminya untuk mengambil tindakan. Tapi, inisiatif yang sifatnya berelbihan juga tidak benar, karena anak cenderung tidak peduli pada bimbingan orang tua. Kalo inisiatifnya yang terlalu sedikit, maka anak cenderung berkembang jadi pribadi yang tidak peduli. 

4. Industry vs Inferiority ( 6 - 12 tahun)
    Anak mulai terlibat dalam interaksi sosial nih, mulai belajar mempunyai rasa bangga akan identitasnya. Adanya dukungan dari orangtua,guru,lingkungan sekitar akan membangun perasaan percaya diri dan perasaan kompeten pada dirinya. Taaaapi kalo si anak kurang dapet dukungan saat dia ngerasa gagal, waini..si anak tumbuh jadi anak yang rendah diri dan gak produktif.

5. Identity vs Role Confusion (12 - 18 tahun)
    Masa-masa pencarian jati diri nih. Apaakah akuh seorang putri yang tertukar??jangan-jangan aku Diana Prince?? Aku mau jadi mbak Selgom ah! Aku mau punya fans juga, buka endorse ahhhh..endorse bedak biang keringat. 
Masa-masa ini remaja banyaaak banget mau coba hal baru untuk tau jati diri mereka. Biasanya mereka akan cari temen yang punya kesamaan untuk sama-sama cari jati dirinya hahaa. Masalahnya adalah lagi-lagi peran dukungan orang tua. Ketika hal itu tidak terjadi, si anak bisa mengalami kebingungan identitasnya.

6. Intimacy vs Isolation (18 - 35 tahun)
    Mulai masuk dewasa muda nih saat seseorang mulai siap membangun hubungan yang lebih dekat atau intim dengan orang lain. Kalo orang itu gagal dalam menjalin hubungan bisa membuat ia merasa terasing dari orang lain, hampaaaahh nestapaaah hidupku tanpaa dirimuu owowowowow.

7.Generativity vs Stagnation (35 - 64 tahun)
   Tahap kedua dari perkembangan kedewasaan. Udah mulai punya mapan secara karir maupun percintaan atau dalam aspek kehidupan lainnya. Tapi saat ia merasa nggak nyaman sama proses kehidupan yang ia jalani, yang muncul adalah penyesalan atas yang telah terjadi di masa lalu dan ngerasa HIDUP GUEEEH GITUH-GITUH AJACH UNCH. 

8. Integrity vs Despair (65 up)
    Flash back nih tentang jalan cerita kehidupan seseorang. Mereka akan mencari cara untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah yang sebelumnya tidak selesai, nah kalo berhasil melewati fase ini maka ia akan tumbuh jadi pribadi yang bijaksana bukan bijaksana bijaksini eiym. Tapi, kalo gagal biasanya akan jadi pribadi yang putus asa huhuhu. 


Kalo kita kaitin KJN sama masa perkembangan mereka sebenernya mereka lagi menaiki tahapan demi tahapan. Saat mereka lagi berusaha nyari jati dirinya yang mungkin dia susah menemukan jawaban "mau jadi apa sih aku","mau jadi siapa sih aku?","mau ngapain sih aku?" tiba-tiba dunia ini menawarkan satu media yang mampu menjawab pertanyaan Anda saudara-saudara! Tinggal pantengin maka Anda akan tau jawabannya!

Sosial media maupun segala bentuk entertainment mau gak mau adalah media terindah yang bisa dimiliki siapapun dengan mudah. Terlebih bagi mereka-mereka yang bingung tadi, mereka bisa mencontoh dengan mudah perilaku yang mungkin dirasa "cocok" atau jadi "idaman" bagi mereka untuk ditampilkan di lingkungan. Saat dia bingung sama identitas barunya dia akan nyari sekumpulan teman yang memiliki kebingungan yang sama dan tentu saling mendukung sikap satu sama lain, ya wong sama-sama bingung ya. Saat mereka bingung gini, bisa jadi peran orang tua tidak lebih kuat daripada peran media tadi. Gimana komunikasi yang dibangun di dalam keluarga, apa orangtuanya justru menertawakan saat si anak misal berperilaku sok marah-marah kayak acting di sinetron dan menganggap itu hal yang lucu, jadi sikap itu semacam reward buat si anak dan akan diulang. Kalo kita liat KJN ini kan bisa masuk di tahapan 3,4 dan 5 ya, mereka lagi bangga-bangganya nih sama diri sendiri, nyoba segala hal baru yang menarik tujuannya untuk tau apa yang cocok buat dia. 

Saat nemuin KJN pacaran so mesraaah banget di public tanpa tedeng aling-aling sementara you nestapa cuma ngemut kembang gula sendirian, itu berarti you lagi di tahap inferior wkwkwkwk ga ding. Itu terjadi yaa bisa jadi karena tontonan yang mereka tau adalah seperti itu, mereka mau coba, kalo cocok mereka akan teruskan kalo engga mereka akan coba yang lain. 

Sebenernya nggak cuma KJN ya yang berkembang, ada emak-emak jaman now, pergaulan jaman now, pacaran jaman now, pelakor jaman now, semua serba jaman now. The main problem menurutku berarti ada di perkembangan jaman sebagai stimulus netral yang membuat kita sebagai homo sapiens ini merespon dengan beragam cara. Cara kita merespon ini lah yang balik lagi gimana dulunya kita dibentuk saat melewati tahapan-tahapan perkembangan. 

Remember, mungkin dulu kita juga dianggap KJN oleh mereka yang lebih dewasa, kita ngga sadar dan menganggap itu normal. Mereka pun. Dulu kita pernah mencari jati diri bahkan mungkin sampai detik ini (?). Sekarang para KJN sepertinya juga sedang mencari, semoga lekas ditemukan dan nyarinya diwadah yang tempat,mudah-mudahan yang nunjukin arah untuk nyarinya juga tepat dan dengan cara yang bijaksana bukan orang yang juga masih sama-sama gamang dan tersesat. 

Jaman Now adalah stimulus netral. 

Tergantung responmu apa anak muda :))