Ternyata keberuntungan ada di tanganku, hatimu terlalu jengah dengannya dan kembali merayu wanita dengan mata berbinar lapar ini. Bagus! Tinggal sedikit lagi kugenggam tanpa harus merasa bersalah.
Siang itu adalah siang terpanas yang pernah ada. Tangan yang seharusnya mampu kugenggam mulai berlari tanpa kusadari. Lengkungan senyum yang sekali lagi bukan untukku. Semakin lama semakin menjauh. Lalu aku bagaikan pohon rindang yang hanya disinggahi saat hatimu lelah. Lalu aku tetap luluh mendinginkan dan menyediakan tempat terteduh. Lalu aku diam, bisakah kamu memberi memori lebih banyak dari sekedar teman?