Viewer

Senin, 08 Februari 2016

Memori

Begini saja ternyata kisah kita berakhir. Atau bahkan belum sempat dijadikan sebuah kisah. Aku merelakan sebagian kecerdasanku tertutup oleh rayuan menjijikanmu. Menjijikkan karena aku hadir ditengah kalian. Aku menikmati segala waktu yang diberikan Tuhan malam demi malam, senja demi senja hanya untuk duduk berdua menatap lengkungan senyummu. Waktu yang kamu berikan hanya saat hatimu jengah dengannya. 
Ternyata keberuntungan ada di tanganku, hatimu terlalu jengah dengannya dan kembali merayu wanita dengan mata berbinar lapar ini. Bagus! Tinggal sedikit lagi kugenggam tanpa harus merasa bersalah.
Siang itu adalah siang terpanas yang pernah ada. Tangan yang seharusnya mampu kugenggam mulai berlari tanpa kusadari. Lengkungan senyum yang sekali lagi bukan untukku. Semakin lama semakin menjauh. Lalu aku bagaikan pohon rindang yang hanya disinggahi saat hatimu lelah. Lalu aku tetap luluh mendinginkan dan menyediakan tempat terteduh. Lalu aku diam, bisakah kamu memberi memori lebih banyak dari sekedar teman?