Viewer

Rabu, 08 Oktober 2014

Kasih Karna

Harusnya sudah kupikirkan sebelum mengantarmu pada malam suci ini. Menatap hiasan bunga segar, lampu cantik dimana-mana, makanan minuman-yang dulu pernah kau suguhkan padaku- terhidang untuk menyambut mereka dan dirinya, bukan aku. Apa yang sudah kulakukan sekian tahun bersama mu? Bertindak bodoh dan memalingkan raut wajah cinta kasihku? Mana mungkin aku meladeni perasaan yang tak seharusnya atau mungkin seharusnya atau entah bagaimana seharusnya!

Bagaimana bisa aku menghantarmu sampai sejauh ini. Memasukkan berita yang sudah kuduga dan mengirim sendiri dg tangan dan hati terkoyak. Kalau kau pernah tercakar pipi indahmu oleh kucing liar itu tak seberapa, ini adalah luka yang bagaimanapun sampai mati. Mati oleh kebodohanku sendiri.

"Terimakasih Kasih, hari ini perjalananku di mulai berkatmu."
"Kamu mengirimkanku seseorang yg seumur hidup aku tunggu".
Sudah mengering airmataku, sudah bertahun-tahun sejak kalian bertemu aku menangis. Menangis untuk apa yg aku perbuat sendiri. Menangis untuk kemurkaanku atas hati ini.
"Berjalanlah bergandengan..menataplah ke depan. Kehidupan akan sangat indah untuk kalian. Aku akan membereskan di depan".

Di depan..membereskan di depan..aku harus membereskannya. Apa yang ada di depan harus ku pastikan semua kembali normal, tidak melulu berisi tentang kebodohanku. Tidak dengan begini sampai akhir hidupku. Toh aku tak kan selamanya menjadi Kasih. Kata Bunda, Karna akan selalu menjadi yg terbaik daripada Kasih.

"Karna, terimakasih telah mencintaiku. Kembalilah pada Karna" Raditya Rano.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar