Viewer

Sabtu, 18 Oktober 2014

Si Manis jantan

Aku terlahir sebagai anak laki-laki bersama saudara kembar perempuan, dari rahim ibu pemecah batu. Terlahir di sebuah kota gersang, sedikit penduduk dan sunyi temaram di sepanjang hari. Pelosok Pulau Jawa bagian timur.
Aku tumbuh dan terdidik sebagai pejantan tangguh. Membantu ibu mengangkat tumpukan karung goni berisi batu, terkadang pasir. Saudara kembarku dicintaiNya, umur dua bulan sudah menghadap Sang Khalik. Untunglah, dia tak perlu melihat atau bahkan tangannya yang pasti halus terpaksa terkena goresan karung kasar, batu atau benda-benda yang aku pun tak suka.



Rumah tangga, atau entah saat itu apa istilahku. Hubungan suami istri untuk kami yang serba kekurangan, akan berusaha tetap harmonis. Tidak terpikir untuk berpisah, di otak hanya tujuan untuk bertahan hidup. Bagaimana bisa membayangkan kehilangan keluarga. Kehilangan kesempatan hidup layak saja sudah membuat kerut di dahi yang semestinya belum pantas untuk usiaku.
Nyatanya, mereka berpisah. Menciptakan kesedihan baru bagi anak semata wayang yang hanya memiliki dua harta paling mewah. Harta paling mahal, tak dapat digadaikan seperti kursi yang sekarang terdampar di kantor berwarna hijau. Kekayaan yang satu-satunya membuatku rindu masuk ke dalam rumah reyot. Kini benar semakin miskin. Apalah kekayaan yang berhak kumiliki. Sedikit saja sungguh tak ada.

Semakin sunyi saja suasana rumah reyot, penuh debu dan tumpukan karung. Cahayanya juga lebih terang cahaya kunang-kunang. Kami berdua tetap menjalani detik per detik dengan peluh. Masih berjuang bertahan hidup dan menunggu bertemu saudara kembarku disana.

Sudah sangat bersyukur aku bisa sekolah sampai bangku SMA. Setidaknya otakku sempat dijejali ilmu selain ilmu memecah batu dan mengangkat pasir. Tapi berkat ilmu pecah-batu, otot-otot di tangan dan perut tumbuh seperti idola wanita kebanyakan. Tapi dengan kulit sawo matang yang kelewat matang. Kembali ke pendidikan, singkatbcerita karena untuk merasak menjadi mahasiswa jelas tak mungkin, bersiaplah otakku untuk berorientasi pada uang. Apapun ku kerjakan asal halal, dan aku bosan merusak tangan pelan-pelan.

**
Rupanya wajah perkampunganku tetap sama. Masih gelap di selimuti raut wajah lelah. Lelah menunggu perubahan takdir yang entah diberi olehNya dengan cuma-cuma atau dari tangan mereka sendiri. Aku masih menjadi si kekar dengan kulit yang tak begitu gelap lagi. Rambut lepek kebanyakn keringat dan minyak urang aring, telah musnah menjadi rambut christian sugiono. Ah..ibu pastilah bangga.
"Roni? Katanya kamu kerja di...apa bener?"
"Eh iya, kok kamu seh, iku kan kerjone wedhok?! Opo jare ibumu"
"Lanang opo wandu?ahahaha!! Mas Roni nggilani koe mas.."
Semua sapaan sambutan itu berjejer rapih di gang rumahku. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak yang masih di kasih tisu buat ngelap ingus menjijikkannya.
"Saya masih laki-laki" ujarku sembari tersenyum gagah.

Ibu sudah menyambut kepulangan pertamaku setelah lima tahun aku memutuskan keluar rumah. Mencari rumah baru yang lebih nyaman. Nyatanya aku tetap rindu ibuku, dengan tambahan bapak baru beserta adik perempuan.
"Wes, tutup kuping aja le..kamu kan ndak minta makan mereka. Ibu ndak masalah, asal itu halal."
Kalimat penenang yang mengalahkan morfin sekalipun inilah yang membuatku tetap menjadi laki-laki sejati. Tetap sekuat Roni si pemecah batu. Tetap menjadi anak lelakinya yang ia puja.

"Ron!!! Kamu ndak bawa bedak?atau catokan?atau bawa pacar laki-lakimu?Hahahaha. Najis, kerjo bengkelan ae!"
Sahabat kecilku bahkan ikut mencerca.

Tuhan, siapakah yang membentuk stigma seperti ini. Aku, Roni. Pegawai salon kenamaan di kota besar. Aku memang melakukan pekerjaan seperti pegawai salon lainnya. Tidak hanya perempuan, banyak lelaki sepertiku juga bekerja disana. Memang sebagian dari mereka, memilih jalan hidup lain. Tapi aku tidak. Dan aku tidak juga menyalahkan mereka. Itu pilihan. Orang-orang ini, yang dulu begitu dekat, berbagi nasi dan lauk, berbagi kesedihan. Sekarang menjadi pencerca seperti kebanyakan orang yang tak kukenal.
Aku, Roni. Aku masih lelaki sejati diantara mereka. Aku hanya berusaha memperjuangkan hidup. Pilihan inilah yang mendatangiku.

Aku masih laki-laki dan aku pekerja salon. Aku bangga :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar