Aku cemburu. Dua kata ini merasuki setiap jengkal nafasku. Tatapan mata tak pernah lepas untuk mengintipmu dari tembok pemisah ini. Mencuri-curi kesempatan yang diberi. Aku masih tak habis pikir, do i looks like a monster?atau patung tak bernyawa dan beraura?. Tidakkah aku pantas bagimu wahai manusia di ujung sana.
Kebekuan itu hanyak kau tujukan untukku, tak pernah sekalipun kau tertawa karenaku. Menjerit tanpa pernah terdengar, menghela nafas panjang untukmu yang memejamkan mata untuk manusia di ujung sini.
Aku melewatkan banyak hal tentangmu,,atau memang aku kau lewatkan begitu saja. Berapa lama sudah jam pasir berganti posisi. Tetap saja akhirnya kau disana aku disini.
"Masih melihatnya?" elusan tangan hangat mampir di pipiku yang tak lagi kencang.
"Kau lihat, dia begitu bahagia. Dia selalu bahagia. Tapi tidak ketika bertemu denganku."
"Dia bukan tak bahagia,,dan dia bukan tak melihatmu. Dia sibuk melupakan perasaan sesungguhnya untukmu."
Wanita disampingku dengan paras yang sungguh luar biasa indahnya, memegang erat tanganku. Tau akan reaksiku yang bagai tersambar petir.
"Aku tau, kau berteman dengannya sekian lama. Kutemukan ini di tumpukan buku bekas miliknya. Bacalah..."
"Haha,,susah sekali mengabaikan tawamu. Ternyata semakin ingin kutarik lenganmu dan tertawalah hanya padaku. Buatlah aku tertawa lagi dan lagi.
"Bangsat! Kenapa bersedih! Tulisanmu sudah ku baca,,tapi apalah daya..
"Ini tahun ke dua kita bersama..besok aku akan merelakan saja. Bersama nyatanya tak mampu mengikat perasaan. Baik2 disana.
"Kau datang,,cantik sekali. Tapi istriku lebih cantik. Mudah2an kau musnah.
Semua kubaca perlahan,menikmati setiap goresan tulisan yang kukenal betul. Tegas dan jelas.
"Ini terakhir dia menulis" ujar wanita cantik disebelahku, masih memegang erat tanganku.
"Karena hari itu kalian menikah...."
"Dia begitu kuat melupakanmu. Tapi, ternyata dia gagal. Kau tau siapa nama anak kami?"
"Putri, kan?" Ujarku dengan air mata yang memperparah kuasan make up menjadi buruk rupa.
Belum sempat wanita itu menjawab.."Sophia!! Jangan lari2! Papa capeknya ngejarnya!"
Mataku tercengang, kuping berdengung dan badan berkeringat. Laki-laki itu menoleh ke arahku, dan tersenyum. Senyum tulus pertama yang kulihat.
"Benar Sophia,, nama anak kami Mahadewi Putri Sophia. Persis nama mu kan,,Mahadewi Sophia"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar