Viewer

Sabtu, 15 November 2014

Jerawat Hidung

Sudah dua puluh empat purnama terlewati. Aku sudah siap menjadi dewi dari seorang dewa sejak empat purnama terakhir. Namun ternyata Sang Pemilik Kasih belum mengirimkan dewa untuk melindungi dewi ini.


Duh Gusti..aku sudah siap lahir batin. Duh Gusti..jerawat sudah menjadi simbol khas di hidungku. Aku lelah menjadi sendiri diantara mereka yang ramai berbicara pasangan. Aku muak dengan keheningan hati yang tak pernah lagi berdegub kencang. Aku ingin menjadi ibu muda dan mempesona. Tak lebih dari itu. Aku ingin membahagiakan ibuku sendiri dengan memberikan bocah-bocah lucu. Duh Gusti..

*******
"Kumi,,piye pacarmu yang itu?" Ibu tiba-tiba bertanya sosok lelaki yang akhir-akhir ini sering membuat kamarku berisik. Bukan,,buka dia singgah di kasurku. Dia menelponku tiap malam hingga subuh menjelang.

Sore itu hujan, kami berdua sedang memotong sayuran buat di masak jadi capcay menemani hujan deras. Siaran acara dokter OZ tak lagi menarik saat ibu tiba-tiba bertanya soal jodoh, lagi dan lagi.

"Yo wes gitu buk..ah embuh wes.." jawabku asal.
" Lho,,gimana sih. Kamu iku wes gedhe,,udah waktunya serius. Kan dia udah kerja juga, kenalin ibu."
"Ya aku juga mau buk..tapi belom ada yang bener otaknya".Sayurku rasanya gak bakal jadi capcay kalo potongannya segede jempol kaki akibat emosi.
"Gak bener gimana to? Kamu aja yang milih-milih. Milih boleh tapi jangan terlalu, nanti kamu nyesel,,"

"......perhatikan jika jerawat di hidung adalah tanda jerawat hormon yang muncul akibat butuh kasih sayang...." 

Tiba-tiba suara dokter OZ memecah perdebatan antara ibu dan anak. Ibu langsung menoleh ke arah tv dan pandangannya bergantian antara wajahku dan tv.

"Lho kan!! Fix ini! Kamu butuh pacar Kumi! Butuh! Liaten itu jerawat hidungmu! Wes wes sini ibuk aja yang motong sayur,,kamu mandi, bersih-bersih badan terus keluar!" Ibu meraih pisau di tanganku dan buru-buru mengusirku.

"Lho sek ta buk,,sek. Terus aku keluar ini ngalain? Lha emange kalo keluar terus dapet pacar?aneh-aneh ae buk. Emoh aku"

"Oh iya ya,,diluar cuma ada supir bemo. Supir truk, yang semuanya aja udah punya istri. Lha kamu,,sarjana iya masih aja jomblo."
"Buk,,kok menghina anak sendiri lho. Eh buk aku mau cerita deh.." Aku tiba-tiba teringat sosok pria berwajah mafia hongkong yang kutemui beberapa hari yang lalu di acara seminar.

"Hahaha,,bukannya jomblo memang baha ejekan kan?. Mau cerita apa? "
"Kemarin aku ketemu cowok. Pengisi seminar bu,,  dia anak kyai terkenal disini. Wajahnya oriental aku pikir dia koko koko jual hape. Ternyata dia pengusaha dan belum punya pacar. Namanya Abdullah."
"Lho namae koko dul?Yakin kamu itu islam?"
"Yo bukan koko dul juga buk panggilannya,,dia dipanggil mas Dul. Iya dia islam kok, dan cerdas, dan santun, dan lucu buk. Aku mau kalo sama dia,,tapi susah.."
"Ya udah sana kenalan.,yang sat set sat set gitu lho jadi anak. Minta nomer rumahnya!"
"Sat set sat set,,dikira balapan. Kok nomer rumah?"
"Ya kamu kirim surat Kumi, bilang mau kenalan"
Entah sebenarnya kami tinggal di daerah mana. Sampai ibuku lupa akan fungsi hape dan teringat media surat jaman doi cinta-cintaan sama ayahku dulu.

"Bu, anakmu ini punya hape. Punya laptop, punya fesbuk masak iya pake surat. Terus aku mesti pinjem doronya bang Sodik buat ngirim surat??"
"Kamu itu udah sarjana kok gak cerdas Kumi. Kalo kita tau alamat sama nomer rumahnya, kan kita bisa tiba-tiba muncul dan bertamu. Kalo cuma nomer hape,,." Ibu tersenyum menggodaku.
"Intinya Kumi, jodoh itu bisa terlewatkan kalo kita pasrah melewatkannya begitu saja" ibu melanjutkan dan membereskan sayuran.

Aku cuma duduk terdiam membayangkan mas Dul. Pria yang datang begitu saja dan kami juga tak bertegur sapa tapi otakku tak pernah lupa bagaimana dia tersenyum, wajahnya yang memerah saat di goda team pembicara, dan kharismatiknya.

Jodoh memang akan datang dengan sendirinya, begitupula mas Dul bukan? Jika sekali lagi kita bertemu dengan sendirinya..aku tak lagi melewatkanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar