Viewer

Rabu, 19 November 2014

Ratu hutan dan kelinci

Setiap lekuk tubuhku tak pernah terlewatkan. Aroma wewangian parfum murahan yang kau beli di sudut pertokoan dekat rumah. Memang parfum bibit yang murah, tapi itu sudah cukup menggoyahkan imanku. Setiap helai rambut yang kau sibakkan di depanku, tak ayal menggelitik jemariku untuk menjambak saja semua helai rambutmu. Biar..biar kau berteriak. Tidak hanya aku yang meronta atas kesialan nafsu ini.


Di sudut ruangan kerja kita. Kursi yang sama tempat aku menunggu wewangian murahan itu masuk. Semua tembok dengan warna pelangi, kuning, biru, merah, yang semua tertata rapi, menurutku. Cukup rapi dan tepat untuk kita berdua bekerja disini.  Ku siapkan mejamu sebelum kau datang. Vas bunga dengan isi bunga bakung kesukaanmu, aroma terapi di sudut meja, kertas warni-warni kesukaanmu, tissue basah untuk menyeka minyak pertamina di wajahmu saat hari sudah mulai panas. Secangkir teh hijau hangat sudah terjadi dengan cangkir motif kupu-kupu yang setahun lalu menjadi kado ulang tahunmu. Kupu-kupu hasil jepretan tangan mungilmu. Setiap hari kau menikmati semua perlakuanku. Mengerti siapa yang memberi, mengerti mengapa ku memberi, mengerti namun benar hanya berhenti di titik mengerti.

Aku tak cukup cantik untuk diperhatikan oleh manusia jenis apapun. Tak menarik nafsu siapapun. Bentuk tubuh yang jauh dari ciri khas patung bidadari-bidadari karya seniman angkatan Van Gough. Aku hanya memiliki satu hal yang kebanyakan wanita inginkan, aku berkulit putih langsat, mulus tanpa bulu, tanpa luka knalpot di betis dan bercak sisa gigitan nyamuk. Ya itu saja kelebihan fisikku, sisanya rambut ikal panjang dengan warna coklat tua, tidak memiliki lesung pipi yang harusnya bisa menambah kesan lucu pada tekstur wajah datar seperti ini.
Sedangkan kau adalah seorang yang begitu indah yang pernah ku temui hasil ciptaanNya. Tidak hanya secara fisik dan gejolak nafsu semata sayang. Kau dan segala kemurahan hatimu dan satu-satunya manusia yang masih mau berbicara dengan jarak 20 centimeter di depanku. Manusia yang masih memberikan sapaan hangat dan tentu saja sukarela menerima semua perlakuan istimewaku. Bukan karena aku yang memegang kendalimu. Bukan karena aku sang ratu hutan, dan kau kelinci yang terperangkap. Hutan yang penuh kertas, tugas, manusia, dan segala interaksinya yang begitu asing buatku namun kau ubah menjadi hutan yang menyenangkan.
Aku adalah pemilik hutan ini. Kau adalah bagian dari hutan ini dan juga aku. Ratu hutan tidak akan bertindak egois dan memaksakan kehendak bukan?. Begitupun aku yang suatu saat harus merelakan kau kelinciku untuk mencari hutan baru yang cocok untukmu. Hutan yang akan kau tinggali selamanya. Hutan akan kau sebut rumah.
Sudah cukup bagiku menyadari menjadi berbeda dan sudah sanggup kutanggung sakitnya merasakan mencinta sesama.

Aku, Maria si ratu hutan dan Sarina si kelinci hutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar