Ya Aku sedang marah, mari kita bicarakan.
Merutuki diri sendiri acapkali terjadi saat otak sedang malas bekerja. Kosong dan sedang tidak memililki kesibukan yang berarti, sehingga ada waktu untuk berdiam diri. Bagus jika diamku adalah untuk menghasilkan evaluasi diri, mencuci pikiran yang sering disebut kotor, membersihkan hati yang mungkin kemarin terselip amarah.
Ternyata, yang muncul bukan evaluasi. Sama sekali bukan. Semua hal baik yang sudah terjadi kemudian hilang entah menguap ke belahan dunia lain. Aku marah akan hal yang tidak tercapai. Aku marah akan yang sudah kulakukan. Aku kecewa karena aku tidak bisa melampiaskan amarahku, aku kesal dan ingin memaki mereka, tapi tidak pernah kulakukan. Aku hanya marah dalam imajinasiku.
Aku bermimpi aku memaki mereka, memukul tepat di mulut, mata atau bagian lain yang menjadi tepat. Aku membayangkan membalas apa yang sudah kalian lakukan dan katakan.
Semua menghantam begitu dahsyat di ulu hati. Aku harus mengontrol amarahku dan belajar lebih memaafkan, kata mereka. Aku merasa tidak diijinkan meluapkan dan mengatakan bahwa aku sedih, aku tidak suka, dan aku marah. Mengeluarkan nada sedikit tegas akan membuat terdengar keras dan penuh kebencian. Aku kembali diam.
Kembali kedalam pelukan diri sendiri.
Aku tertidur dan percayalah tidak pernah ada rasa aman dan damai dalam tidur. Semua yang kutahu disebut unfinish business selalu bergantian mengucapkan "Halo selamat malam, mimpi kali ini giliran aku yang menguasai ya"
Bahkan untuk memikirkan bahwa aku sedang marah saja membuatku merasa bersalah. Memikirkan kekecewaan akan hal yang tidak terjadi juga membuatku merasa terlalu berlebihan.
Aku akrab dengan berbagai istilah yang mereka sebut lebay jika kamu memikirkan semua perkataan orang yang menyinggung, atau sekedar merasa sedih atas sesuatu.
Aku belajar untuk melihat semua biasa saja. Menerima bahwa semua orang tidak sama, dan mereka juga berhak untuk berkata kasar, bertindak bodoh, dan mean to you.
Aku belajar untuk tidak sensitif (seperti yang mereka sebutkan). Menghindari perasaanku sendiri. Menjadi sekuat-kuatnya manusia.
I'm taking over my own feeling.
Tunggu dulu. Bukan begitu cara kerjamu sebagai manusia. Aku akan menjadi hancur oleh diriku sendiriku.
Perlahan, aku mengajak diriku sendiri untuk menjelajahi semua amarah, sedih dan kecewa yang pernah dan sedang terjadi. Kupersilakan semua benar-benar masuk dalam pikiranku. Aku duduk diatas sajadah kali ini. Aku sudah memohon kepada Tuhanku jika mereka masuk ke dalam pikiranku jangan biarkan mereka bertindak bodoh. Aku percaya pada-Nya, lagipula aku juga diciptakan-Nya. Aku coba pelan-pelan, memikirkan semua hal yang sudah datang belasan tahun lalu, beberapa tahun lalu, beberapa bulan lalu, kemarin, dan hari ini. Segala yang membuatku merasa tidak nyaman dan aman. Aku siap jika ada yang pecah dalam diri ini sebentar lagi. Basah, sangat basah dan aku tidak berusaha menghapusnya dari wajahku. Bibirku gemetar mengucapkan segala yang ingin kusampaikan. Semua hadir tepat di hadapanku, bahkan diriku sendiri saat masih memakai baju lima tahun.
Saat terlalu rapuh justru Aku merasa semakin kuat dan benar-benar menjadi manusia yang menerima.
Tidak apa jika merasa marah, kecewa, sedih, dan terluka. Sampaikan jika ingin disampaikan. Karena kamu merasa tersakiti maka sampaikanlah dengan baik agar mereka tidak sampai merasa sakit juga. Bukan agar hanya kamu yang merasa sakit, tapi agar kamu berbeda dengan mereka. Kamu menguasai perasaanmu dan mengajarkan sesuatu untuk dirimu sendiri.
Tidak apa menjadi sensitif, kamu peka akan sesuatu yang mungkin tidak mereka sadari. Kamu menjadi selektif memilih kalimat, mendengar obrolan, menangkap maksud tersembunyi, mengolah informasi penting, apapun yang sedang sampai ke inderamu. Sampaikan kegelisahanmu dengan cara yang tepat.
Akan selalu ada tempat untuk keunikan setiap diri.
Aku menerima diriku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar