Viewer

Sabtu, 07 Juli 2018

Relakanlah

Kalau waktumu merasa terbuang percuma karena memori yang terbangun cukup lama, maka sebenarnya kamu tidak mendapat pelajaran apapun selain lelah.

Aku samasekali nggak menyesali apapun. Bukan karena aku yang memilih pergi. Karena waktu beserta memorinya juga bagian terindah yang pernah secara sukarela hadir. Aku bersyukur pernah diberi kesempatan mengenal dia yang sebegitu baiknya dan pada akhirnya aku jadi menemukan seperti apa diriku, lalu mengalah. 

Tidak cukup menjadi baik saja untuk bisa bersama dengan seseorang seumur hidup. 



Teruntuk kamu,

Tidak ada yang meragukan betapa baiknya kamu. Bahkan kamu juga mungkin yang diimpikan mereka. Aku akan dengan senang hati menepuk wanitamu nanti dan bicara bahwa kamu punya mata dan hati yang teramat tulus. Siapapun akan suka saat kamu menatap pasanganmu, termasuk aku di waktu-waktu itu. Siapapun wanita itu memang benar beruntung kamu yang mencintainya, seperti aku di waktu-waktu itu. Kamu adalah pria dengan sejuta kejutan. Kamu mungkin dilahirkan memang untuk membuat orang senang. Kamu adalah pria berhati lembut. Kamu juga mungkin dilahirkan memang untuk membuat damai. Namun sekali lagi, aku yang seperti batu. Aku yang tak perlu bunga, aku yang tak perlu coklat, aku yang tak perlu itu semua, aku perlu ucap ketegasan dan keyakinan. Dan memang bukan salahmu, kamu memang tercipta untuk suatu kelembutan, seperti air yang mengalir, sungguh perlu kamu mencari wanita sehebat itu juga.  

Sudah banyak usaha yang kita berdua lakukan sedari awal. Aku ingin bermuara disana, di semua kelembutan dan kebaikan itu, pada waktu-waktu itu. Kita berdua tumbuh dan semakin memahami kita punya hati masing-masing yang memang bukan untuk saling berhenti. 
Sekuat apapun usaha yang pernah dilakukan, tahun demi tahun, rupanya hadir untuk mendewasakan diri kita masing-masing. Pun sejatinya ketidak beranian itu kau pilih karena aku juga tidak mampu meyakinkanmu. Segala daya dan upaya ucapanku memang perlunya hanya singgah, bukan mengajakmu pada tindakan.

Sampai pada satu titik muncul pertanyaan, akan kemanakah semua ini bermuara? harus berapa lama?
Sungguh, ternyata sebuah jawaban yang memberi jalan untukku  "keluar" dari cerita yang bertahun-tahun itu. Kamu, meminta diri ini untuk menunggu hingga ku lelah dan menyerah akan dirimu.

Cukup sekian jika begitu,
Tidak ada yang salah pun benar.
Akhir yang sudah kau dan aku duga bukan?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar