Sudah satuh tahun berlalu hampir saja aku lupa. Apa sebenarnya maumu dan apa sebenarnya mauku. Perutku bagaikan diserbu ribuan kupu-kupu, mual namun menyenangkan. Kau datang dengan sapaan hangat dan aku luluh namun tak berani mengakui. Kau datang dengan tatapan tajam dibalik bingkai kacamata sekalipun, hangat dapat kurasa. Tak satupun dari kita berani mencoba mengenal lebih jauh, tapi sekarang kau muncul mengajakku bermain perasaan. Dengan begini saja aku telah bahagia. Dua anak manusia yang sedang bermain-main dengan hati, dan entah kemana akan berujung.
Dekatlah dan jangan pergi lagi, jangan berhenti menanyakan kabarku, jangan pura-pura acuh lagi sungguh ingin kubisikkan ternyata aku masih terpesona olehmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar