Setelah mutusin buat blogging lagi, semua yang ada disekitarku seperti mempersembahkan cerita untuk ditulis. Dulu kayaknya pasti bakal lewat gitu aja, tapi sekarang semuanya jadi unik dan kayak ngasih pesan tersendiri. Kemaren, aku cuci otak ke panteee yang yah ga jauh dari rumah lah. Tapi sekalipun aku nggak pernah kesono, looks like "biasa aja pantenya". Tapi, waow prediksi salah total. Keren banget, anginnya, pantainya, viewenya bahkan makanannya. Terletak di Kota Jember entah arah mata angin mana, they called PAPUMA (Pacaran Pulang Malam). Haha, beneran deh itu singkatan ternyata banyak banget yang mojok dengan kostum yang "khas ababil pacaran". Duduk diujung dermaga saling memeluk dan men....ahsyudahlah, seakan-akan mereka lupa ada ombak yang siap mencuci muka mereka.
Tapi, cerita kali ini it is not about the beach. Jadi, untuk dapet spot yang bagus buat ngeliat view kita harus naek ke atas bukit, ada puluhan tangga untuk sampe disana. Aku aja yang masih muda capek banget, ngos-ngosan begitu sampe di atas puncak. Ternyata, di atas ada satu nenek yang ngejual minuman dingin. Aku kira di atas dengan kondisi jalanan kesononya yang susah, cuma ada muda mudi doang. Alhasil nenek ini menyita perhatianku dengan begitu banyak dagangannya.
"Nak,,minum nak. Siapa tau haus nak, beli nak..dingin ini nak".
Aku gak langsung nyamperin dan beli minumannya sih, sengaja pengen liat gimana beliau nawarin ke muda mudi ini, dan apa mereka mau beli.
Ternyata 30 menit lebih aku disana, mereka nggak ada yang beli, selain udah bawa bekel minum sendiri dari bawah mereka juga sibuk selfie dan nyari spot yang bagus.
"Nek, nenek kesini jalan kaki?" aku duduk disebelahnya.
"Iya nak, jalan mau naik apa wong tangga semua."
"Enggak capek?kan nenek udah sepuh. Ini barang-barang dibawa sendiri?" ada satu kerangjang snack, satu keranjang gorengan dan satu tempat minuman dingin.
"Kalo ini (nunjuk keranjang snack) saya bawa sendiri, saya gendong sama bawa keranjang gorengan. Kalo minuman saya ongkosin sama tukang ojek nak."
"Oh, berapa kalo ongokosin tukang ojek?"
"Dua puluh ribu nak."
"Tapi tetep aja ya nenek jalan naik tangga segitu banyaknya, sendirian. Nggak sakit kakinya?"
"Ya sakit nak tapi kan nenek butuh. Kalo ga butuh pasti sudah kerasa sakit." Dia tersenyum. Senyumnya itu yang ngebuat hatiku yang ngeliat "Oh God, give her much happiness and health."
"Hehe iya ya nek. Salut saya. Nenek umur berapa ya?"kupandangi kakinya, tangan dan pipinya semua mulai kehilangan keindahannya. Tapi tidak di mata dan senyumnya.
"Saya tujuh puluh mbak. Sudah tua ya haha." Tertawanya menunjukkan sisa gigi yang masih tertinggal.
"Tapi nenek masih kuat. Sehat-sehat terus ya. Nek, ngomong-ngomong saya haus. Air mineral dingin ada?"
"Ada mbak, itu mama sama saudaranya nggak minum?"
"Oh iya nek, sekalian deh."
"ALhamdulillah." She laughed.
Ada banyak manusia yang diberi kelebihan dan kesempatan tapi menyia-nyiakan begitu saja. Mengeluh seakan ia tidak butuh. Acuh seakan ia tidak ingin. Berusahalah jika kamu masih membutuhkan, apa pun itu. Usia toh nyatanya bukan hambatan. She can..He can..They can..how about me..
How about you :)
| Tangga menuju atas bukit |
| The super woman |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar