Viewer

Selasa, 16 Desember 2014

Konsekuensi Cinta

Kebiasaanku yang gak pernah hilang adalah ngobrol sama orang asing dimana pun aku berada. Kemaren pas lagi di perjalanan pulang ke Bondowoso, di dalem kereta aku duduk hadep-hadepan sama seorang ibu paruh baya sama anak perempuannya yang masih sekitar umur 12 tahun. Empat jam perjalanan Surabaya-Jember aku dapat pelajaran tentang kehidupan berumah tangga ._. 
Jadi begini ceritanya...


"Mbak pernah magang di RSJ dong ya?" Si ibu mulai pembicaraan setelah tahu latar belakang sekolahku dan kita saling berkenalan.
"Magang sih engga tante, cuma saya pernah kunjungan kesana dulu. Mereka dari berbagai latar belakang masalah." Jawabku sambil menatap ibu itu.
"Em,,rata-rata apa masalahnya?"Si ibu menyisir rambut anaknya yang ternyata masih duduk di kelas 6 SD.
"Cinta tante. Beberapa pasien patah hati karena ditinggal sama suami, sama pacar, nggak jadi nikah, yaah masalah perasaan lah."
"Gitu ya..padahal..aduh sayang sekali. Kok banyak yang bunuh diri hanya karena sakit hati." Si ibu menimpali sembari menerawang padangannya.
"Yaa..setiap orang kan punya resiliensi yang beda-beda tante. Mungkin kita kalo mengalami ga sakit, tapi orang lain bisa aja sakitnya banget banget banget."Ujarku tersenyum, tapi mataku tak lepas menatap tatapan nanar yang jelas terlihat di dua bola mata ibu ini. Seperti ada bekas luka juga yang ditutup rapat-rapat.
"Benar..benar kamu non. Cuma,,tante udah hidup mau setengah abad. Udah banyak makan asam manis kehidupan. Tante..pernah lah ngalami masa-masa itu. Itu..ya itu..tentang..rumah tangga. Kita sebagai manusia yang saat jatuh cinta kan berdoa sama Tuhan.Minta sama Tuhan yang terbaik, minta pendamping yang terbaik. Kalau kita sudah menikah dan baru ketahuan jelek-jeleknya pasangan kita itulah namanya konsekuensi." Ia menatapku dengan tajam.
"Konsekuensi yang gimana tante?"
"Sebelum kita menikah, kita memilih kan? Kita juga minta sama Tuhan. Setelah dipilihkan dan kita memutuskan, hasil dari keputusan kita itu namanya konsekuensi. Mau pasangan kita jelek gimana juga itulah resiko kita. Tugas kita yang saling memperbaiki bukan malah nyerah non."

Aku tidak menimpali, justru memberinya peluang bicara.
"Di pelayanan, banyak teman tante yang cerita tentang keinginannya untuk cerai. Suami selingkuh, suami begini, begitu. Tapi tante bilang janganlah mikir soal perasaan sendiri, tapi lihat perjuanganmu dari dulu. Mereka bilang udah gak kuat sama rumah tangganya selama 20 tahun ini, tapi itu kan bohong mbak. Kalo gak kuat kok gak dari dulu saja dia bercerai? Itu gak kuat di mulut tapi hati kau masih cinta. Saya bilang begitu."
"Apa iya bisa kuat gitu tante?"
"Misal, seorang suami yang tinggal berjauhan dengan istri. Banyak godaan pasti. Tapi cinta itu harus konsekuen. Kita harus kuat gak boleh goyah walaupun suami melakukan kesalahan. Ada anak-anak yang harus diperjuangkan. Ada moment di masa lalu yang sayang kalau sampai hancur gitu aja. Ada ingatan tentang bagaimana kita mempertahankan sekian puluh tahun."
"Apa yang sakit hati rata-rata juga perempuan tante?"
"Enggak,,laki-laki pernah ada yang konsul sama tante. Istrinya cerewet. Lelaki mana sih yang betah. Kalau perempuan terlalu bawel, laki juga males lho mbak. Kasian juga udah cari duit, dicurigain, kadang cintanya beneran pada awalnya tapi jadi cinta-cintaan aja kalau istri atau suami yang kelewat protektif."
"Hehe iya tante, perempuan kadang emang bawel."Ujarku.
"Mbak udah mau nikah?"
"Hah,,belommm tante belommm,,belom siap." Teriakku malu.
"Haha iya masih muda. Jangan buru-buru cari ilmu, kerja dulu. Itulah gunanya doa mbak. Minta sama Tuhan dari sekarang jodoh yang baik. Sisanya tinggal sebuah konsekuensi."

Ibu ini mungkin belajar dari kasus teman-temannya. Tapi dari situ dia belajar dan memberi pelajaran pada gadis muda di hadapannya. Allah, Tuhan Yang Maha Esa sungguh pemurah. Berdoalah yang banyak minta yang terbaik. Cinta adalah konsekuensi atas apa yang diberi. Wanita tak hanya di perjuangkan, tapi juga berjuang.

2 komentar:

  1. keyen shin..
    semua pilihan memang bermuara pada konsekuensi, entah itu tentang cnta, karir ataupun yang lainnya.
    tugas kita adalah menyelaraskan diri dengan konsekuensi itu atau malah hancur karena ketidaksiapan menerima konsekuensi yang ada.

    BalasHapus