Hai..sudah berapa lama tak jumpa?. Apa kamu masih mengejarnya?. Apa sampai nanti akan saling menutupi?.
Hai..ngomong-ngomong aku sudah tak tahan bersembunyi di balik ekor mataku.
Hai..benarkah kamu tak pernah sekalipun menyukaiku?
Hai..hari ini, bahkan malam sebelumnya, dan malam sebelumnya aku melihatmu dalam tidurku.
Kamu tiba-tiba tak pernah absen mengunjungiku. Benarkah kamu tak suka padaku?
Kamu baru menyadari akhir-akhir ini bukan?
Sudah lama aku memohon dengan keras, kamu masih acuh.
Sudah lama aku ingin dilihat, namun sekarang baru kamu melihat dengan benar.
Hai..temani aku di kamar ini. Aku kesepian dan takut
Hai..sedingin itukah perasaanmu buatku?
Memaksamu melihatku pun aku tak berani..tapi aku ingin
Hai..tolong tetap di kamar ini. Aku mulai mual.
Hai..setega itukah kamu?
Coba tolong tetap tatap aku seperti hari kemarin
Jangan pegang tanganku..cukup dengan melihatku aku bahagia
Coba berikan senyum tulusmu seperti hari pertama kita kenal
Jangan menyapaku..cukup dengan senyum simpul aku melayang
"Mbak..sudah mau selesai jam berkunjungnya..Mas Reno biar pulang dulu ya.." Suara yang selalu menyebalkan selalu datang tidak tepat.
"Oh makasih mas,,sebentar lagi saya pulang. Biarkan Febi makan dulu." Suara yang kurindu menjawab.
"Em..cepat ya mas . Lima menit lagi ada Psikolog yang bakal cek visit."
"Iya..saya tahu." Mas Reno memberikan sesuap bubur di mulutku. "Cepat sembuh ya..aku sudah menunggu di luar sampai kamu benar-benar siap. Aku gak akan membiarkan kamu tersiksa lagi." lanjutnya.
"Kamu..kan..yang bawa aku kesini . Kamu menolehku pun tidak."
"Seandainya aku dan kamu saat itu sama-sama mau jujur..pastilah kita sudah..."Dia menggenggam tanganku dan menatapku dalam.
"Ngomong-ngomong..kamu siapa?Reno gak pernah melihatku. Kamu keluar atau aku muntahin kamu!"
"Suatu saat kita bersama Feb. Aku gak akan ngelepasin kamu apapun yang terjadi. Aku masih nunggu kamu di luar sana." Pria ini menangis di depanku.
"Mas Reno..bisa keluar sebentar saya mau bicara?" Psikolog yang tiap hari memberondongku dengan pertanyaan memanggil Reno, keluar dari kamar menyeramkan ini. Aku beringsut mendekati pintu mendengarkan mereka berdua.
"Gimana pak?Ada kemajuan?"
"Banyak mas..Rumah Sakit Jiwa tidak membantunya. Justru berada di tengah keluarga dan Anda yang akan menyembuhkannya. Dia mulai pulih semenjak Anda kesini. Saya kira dia harus melepaskan semua bebannya kalau tidak bisa muntah dia."
"Seperti?"
"Cinta bisa membuat orang waras jadi depresi akut mas. Hal sepele seperti kehilangan, cemburu, bisa membuat ribuan manusia menginap disini. Saya rasa mas lebih tau jawabannya." Psikolog itu melenggang pergi dengan menepuk bahu Reno.
Hai..aku ingin keluar dari kamar ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar