Cinta bukan masalah seberapa lama kita saling mengenal. Cinta adalah perasaan seberapa nyaman kita bersamanya. Tak butuh waktu lama untuk menyadari cinta datang, kalau memang Tuhan berkehendak. Tak pernah memilih kepada siapa cinta ini jatuh dan rela terhempas.
Seorang sahabat baru saja bercerita tentang perasaannya baru-baru ini. Ia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang asing yang hanya dalam satu kedipan mata ia rela jika harus sakit saat cinta tak terbalas. Sebuah perasaan yang orang akan bertanya-tanya apa iya itu cinta atau pesona lukisan Tuhan yang digambar sungguh elok di rupa manusia.
"Astaga, kau melihatku. Aku tahu kau melihatku. Ucapku dalam hati. Aku pura-pura saja tak menyadari. Ku tolehkan wajahku dan melihatmu yang duduk persis dihadapanku. Kau melihatku dan tak berusaha berpaling!Kau masih melihatku!Bahkan dibalik...ah sudahlah. Terang saja aku luluh oleh tatapan itu. Ingin aku membalasnya dengan lebih lama. Baru kali ini aku melihatmu begitu terang-terangan menatapku. Sepertinya beberapa hari yang lalu aku belum merasakan detakan jantung yang aneh. Seperti diserang tawon. Tapi apa gunanya kau menatapku sementara ada wanita lain yang kau dekati? "
Begitulah ia dengan segala kebingungannya. Tapi itulah cinta yang ia tahu, tanpa pernah menjelaskan kenapa ia datang. Aku berusaha meyakinkan padanya, apa benar itu cinta? Masih tak percaya.
"Kau tak pernah bisa memilih kan, kepada siapa kau jatuh hati? Aku ditatapnya saja sudah bermandi peluh. Keringatku diam-diam tajuh dari balik baju. Hanya ditatapnya dari meja sebrang. Dia orang asing yang entah mengapa seperti aku mengenalnya sudah lama. Cinta atau bukan nyatanya aku merasa aman saat berada disekitarnya."
Begitu pula jawabnya kepadaku. Walaupun menurut Psikologi cinta memiliki definisi, toh cinta letaknya entah dimana. Tak ada yang tahu itu cinta, nafsu, atau suka-suka saja. Cinta menurutku adalah segala sesuatu yang baik.
"Tidak juga, dia tak baik padaku." Jawabnya
"Berarti dia tidak cinta kau." Ujarku sambil menatap wajahnya yang tersenyum.
"Mungkin tidak, mungkin juga iya. Siapalah yang peduli? Aku menyukai acuhnya padaku. Dengan begitu aku tahu tak akan berani berharap banyak-banyak."
"Lantas, kenapa masih kau cintai pria seperti itu?"
"Cinta. Siapa yang bisa mengusirnya begitu saja kecuali kehendakNya."
"Begitukah?"
"Berhenti menghadap cermin dan terus berdebat denganku. Lihatlah duniamu."
"Kau benar." Jawabku sambil menutup cermin kecil dihadapanku. Ia lenyap. Meninggalkan pelajaran cinta di siang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar