Kei.
Aku bisa membaca setiap gerak matamu, resah, kering. Aku bisa membaca setiap lengkungan senyummu, basah, manis namun hampa. Semakin menjadi-jadi saja setiap kali kita bertemu, tidak pernah dapat kuteriakkan dan bertanya apa maumu. Aku setengah mati bergantian melihat kamu dan dia. Selalu timbul gerakan yang sama, dia seresah dirimu, dia semanis dan sehampa dirimu. Dia juga melihatku, berteriak kepadaku dengan bibirnya yang seindah kamu. Melihat bibir kalian menari membuat mataku lelah namun sungguh itu yang kutunggu setiap bertemu.
Mahesa.
Teduh setiap kali berada disampingmu, Kei. Rambut hitam sebahu, bibir merah muda, urat-urat di kulit wajahmu yang sungguh tepat berbaur dengan rona merah setiap kamu tersipu. Duduk mencium aroma rambutmu setiap kali kamu memalingkan wajah kepadaku. Sesekali menyentuh tanganmu untuk sekali lagi membuatmu memalingkan wajah kepadaku. Aku adalah yang kau sukai setiap kali kuberteriak. Aku tidak keberatan jika harus berteriak setiap saat untukmu. Aku adalah bibir yang kamu tunggu untuk memancingmu tertawa meski dalam diam. Aku senang melihatmu menggerakkan kedua tanganmu saat berusaha membuatku memahamimu. Aku jatuh cinta dan selalu begitu terhadap setiap detail darimu.
Gandhi.
Kamu ada dihadapanku saat ini dan selalu begitu saat bertemu. Kamu membiarkanku bebas melihat setiap gerakkanmu yang entah bagaimana seperti sihir. Aku tak banyak bicara. Aku kehabisan kata-kata pada gadis yang sungguh aku bahkan berterima kasih kepada Tuhan kau dilahirkan. Kau berusaha membuatku paham akan setiap percakapan, namun sungguh kau tak perlu bersusah payah. Kalimat-kalimat yang bergelantungan itu terasa mudah kupahami hanya dengan melihat mata coklat itu, Kei. Kamu, bahkan kuijinkan memperoleh pita suara ini jika suatu saat kau butuhkan untuk dunia mendengarmu.
Kei.
Aku memang tidak pernah merasa harus bersusah payah bercerita kepada kalian. Kedua tanganku tak perlu banyak bergerak. Bagaimana bisa aku ingin kalian berdua. Setidaknya buatlah sedikit lebih mudah untukku jika harus memilih. Mahesa, kamu selalu menatapku bahkan saat aku tidak memalingkan wajahku untukmu. Senyum dan tawaku yang tak bersuara pun berasal dari gerakan bibirmu. Gandhi, diam dan segala ketenangan yang ada padamu adalah mengapa aku selalu ingin berada di depanmu, selalu berhadapan dengan wajah teduh itu. Seakan semua kelelahan apa yang ingin kukatakan, tak perlu lagi kuucapkan kamu pasti akan mengerti, bukan?.
Berada bersama kalian berdua tidak bisakah berlangsung selamanya, jika hanya kalian yang tak pernah mengeluh. Tidak bisakah aku menggenggam kalian, sedangkan kumiliki dua tangan yang mampu menahan kalian. Bibir ini hanya mampu bergerak tak bersuara, tangan ini membantuku berbicara. Namun, sejak mengenal kalian untuk apakah tangan ini lelah bergerak jika mudah saja kalian memahamiku.
Tidak ada Mahesa dan Gandhi lain yang mau bersusah payah memahamiku bahkan jika hanya sekedar sapaan saja.
Aku memiliki suaraku sendiri dengan bersamamu, Mahesa.
Aku memiliki arti sendiri dengan berdua denganmu, Gandhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar